\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

BPS merilis komoditas penyumbang kemiskinan menurut urutannya meliputi: beras, rokok kretek, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, hingga tempe dan tahu.<\/strong> Artinya penyumbang kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan adalah bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Beras memiliki andil kemiskinan sebesar 20.59% di perkotaan dan 25.97% di pedesaan. Rokok memiliki andil 12.22%  di perkotaan dan 11.36% di Pedesaan. Telur ayam ras memiliki andil 4.26% di perkotaan dan 3.53% di Pedesaan. Daging ayam ras memiliki andil 3.83% di perkotaan dan 2.20 di pedesaan. Mie instan, andil 2.40% di perkotaan dan 2.18% di pedesaan. Gula pasir, andil 2.06% di perkotaan dan 2.89 di pedesaan. Tempe ikut serta andil penyumbang kemiskinan sebesar 1.65% di perkotaan dan 1.54% di pedesaan. <\/p>\n\n\n\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: \u00a0Merokok Adalah Hiburan Masyarakat Desa<\/a><\/p>\n\n\n\n

BPS merilis komoditas penyumbang kemiskinan menurut urutannya meliputi: beras, rokok kretek, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, hingga tempe dan tahu.<\/strong> Artinya penyumbang kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan adalah bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Beras memiliki andil kemiskinan sebesar 20.59% di perkotaan dan 25.97% di pedesaan. Rokok memiliki andil 12.22%  di perkotaan dan 11.36% di Pedesaan. Telur ayam ras memiliki andil 4.26% di perkotaan dan 3.53% di Pedesaan. Daging ayam ras memiliki andil 3.83% di perkotaan dan 2.20 di pedesaan. Mie instan, andil 2.40% di perkotaan dan 2.18% di pedesaan. Gula pasir, andil 2.06% di perkotaan dan 2.89 di pedesaan. Tempe ikut serta andil penyumbang kemiskinan sebesar 1.65% di perkotaan dan 1.54% di pedesaan. <\/p>\n\n\n\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia per bulan Maret 2019 tercatat menurun hingga 9.41% dari bulan September 2018 sebesar 9.66%. Masih ada sekitar 25.14 juta orang Indonesia kategori miskin. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, harga rokok memiliki andil terhadap faktor kemiskinan 11.38% di pedesaan dan 12.22% di perkotaan.<\/strong> Artinya, semakin tinggi harga rokok, maka akan semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Merokok Adalah Hiburan Masyarakat Desa<\/a><\/p>\n\n\n\n

BPS merilis komoditas penyumbang kemiskinan menurut urutannya meliputi: beras, rokok kretek, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, hingga tempe dan tahu.<\/strong> Artinya penyumbang kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan adalah bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Beras memiliki andil kemiskinan sebesar 20.59% di perkotaan dan 25.97% di pedesaan. Rokok memiliki andil 12.22%  di perkotaan dan 11.36% di Pedesaan. Telur ayam ras memiliki andil 4.26% di perkotaan dan 3.53% di Pedesaan. Daging ayam ras memiliki andil 3.83% di perkotaan dan 2.20 di pedesaan. Mie instan, andil 2.40% di perkotaan dan 2.18% di pedesaan. Gula pasir, andil 2.06% di perkotaan dan 2.89 di pedesaan. Tempe ikut serta andil penyumbang kemiskinan sebesar 1.65% di perkotaan dan 1.54% di pedesaan. <\/p>\n\n\n\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cRokok ini terus naik, inflasi dari rokok ini naik. Rokok naik kok nggak ada yang komplain ya. Pelan-pelan ini naik kontribusi rokoknya meningkat di kota12.22% di desa 11.36% kalau dibandingkan posisi Maret dan September,\u201d kata Suhariyanto Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin 15 Juli 2019.<\/p>\n\n\n\n

Menurut BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia per bulan Maret 2019 tercatat menurun hingga 9.41% dari bulan September 2018 sebesar 9.66%. Masih ada sekitar 25.14 juta orang Indonesia kategori miskin. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, harga rokok memiliki andil terhadap faktor kemiskinan 11.38% di pedesaan dan 12.22% di perkotaan.<\/strong> Artinya, semakin tinggi harga rokok, maka akan semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Merokok Adalah Hiburan Masyarakat Desa<\/a><\/p>\n\n\n\n

BPS merilis komoditas penyumbang kemiskinan menurut urutannya meliputi: beras, rokok kretek, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, hingga tempe dan tahu.<\/strong> Artinya penyumbang kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan adalah bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Beras memiliki andil kemiskinan sebesar 20.59% di perkotaan dan 25.97% di pedesaan. Rokok memiliki andil 12.22%  di perkotaan dan 11.36% di Pedesaan. Telur ayam ras memiliki andil 4.26% di perkotaan dan 3.53% di Pedesaan. Daging ayam ras memiliki andil 3.83% di perkotaan dan 2.20 di pedesaan. Mie instan, andil 2.40% di perkotaan dan 2.18% di pedesaan. Gula pasir, andil 2.06% di perkotaan dan 2.89 di pedesaan. Tempe ikut serta andil penyumbang kemiskinan sebesar 1.65% di perkotaan dan 1.54% di pedesaan. <\/p>\n\n\n\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cPengetahuan ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia sebagai heritage<\/em> atau warisan dunia,\u201d pungkasnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n
\r\n

https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=ntZH2ercDLM[\/embed]<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/figure>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5878","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5871,"post_author":"877","post_date":"2019-07-17 11:58:27","post_date_gmt":"2019-07-17 04:58:27","post_content":"\n

\u201cRokok ini terus naik, inflasi dari rokok ini naik. Rokok naik kok nggak ada yang komplain ya. Pelan-pelan ini naik kontribusi rokoknya meningkat di kota12.22% di desa 11.36% kalau dibandingkan posisi Maret dan September,\u201d kata Suhariyanto Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin 15 Juli 2019.<\/p>\n\n\n\n

Menurut BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia per bulan Maret 2019 tercatat menurun hingga 9.41% dari bulan September 2018 sebesar 9.66%. Masih ada sekitar 25.14 juta orang Indonesia kategori miskin. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, harga rokok memiliki andil terhadap faktor kemiskinan 11.38% di pedesaan dan 12.22% di perkotaan.<\/strong> Artinya, semakin tinggi harga rokok, maka akan semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Merokok Adalah Hiburan Masyarakat Desa<\/a><\/p>\n\n\n\n

BPS merilis komoditas penyumbang kemiskinan menurut urutannya meliputi: beras, rokok kretek, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, hingga tempe dan tahu.<\/strong> Artinya penyumbang kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan adalah bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Beras memiliki andil kemiskinan sebesar 20.59% di perkotaan dan 25.97% di pedesaan. Rokok memiliki andil 12.22%  di perkotaan dan 11.36% di Pedesaan. Telur ayam ras memiliki andil 4.26% di perkotaan dan 3.53% di Pedesaan. Daging ayam ras memiliki andil 3.83% di perkotaan dan 2.20 di pedesaan. Mie instan, andil 2.40% di perkotaan dan 2.18% di pedesaan. Gula pasir, andil 2.06% di perkotaan dan 2.89 di pedesaan. Tempe ikut serta andil penyumbang kemiskinan sebesar 1.65% di perkotaan dan 1.54% di pedesaan. <\/p>\n\n\n\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tembakau Deli sempat mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-19 dan sempat menguasai pasar dunia terutama di Eropa. Selain itu, menurutnya, pengetahuan budidaya tembakau dan keahlian mengolah tembakau sebagai bahan cerutu berkualitas hanya ada di Indonesia dan Kuba.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cPengetahuan ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia sebagai heritage<\/em> atau warisan dunia,\u201d pungkasnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n
\r\n

https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=ntZH2ercDLM[\/embed]<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/figure>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5878","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5871,"post_author":"877","post_date":"2019-07-17 11:58:27","post_date_gmt":"2019-07-17 04:58:27","post_content":"\n

\u201cRokok ini terus naik, inflasi dari rokok ini naik. Rokok naik kok nggak ada yang komplain ya. Pelan-pelan ini naik kontribusi rokoknya meningkat di kota12.22% di desa 11.36% kalau dibandingkan posisi Maret dan September,\u201d kata Suhariyanto Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin 15 Juli 2019.<\/p>\n\n\n\n

Menurut BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia per bulan Maret 2019 tercatat menurun hingga 9.41% dari bulan September 2018 sebesar 9.66%. Masih ada sekitar 25.14 juta orang Indonesia kategori miskin. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, harga rokok memiliki andil terhadap faktor kemiskinan 11.38% di pedesaan dan 12.22% di perkotaan.<\/strong> Artinya, semakin tinggi harga rokok, maka akan semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Merokok Adalah Hiburan Masyarakat Desa<\/a><\/p>\n\n\n\n

BPS merilis komoditas penyumbang kemiskinan menurut urutannya meliputi: beras, rokok kretek, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, hingga tempe dan tahu.<\/strong> Artinya penyumbang kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan adalah bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Beras memiliki andil kemiskinan sebesar 20.59% di perkotaan dan 25.97% di pedesaan. Rokok memiliki andil 12.22%  di perkotaan dan 11.36% di Pedesaan. Telur ayam ras memiliki andil 4.26% di perkotaan dan 3.53% di Pedesaan. Daging ayam ras memiliki andil 3.83% di perkotaan dan 2.20 di pedesaan. Mie instan, andil 2.40% di perkotaan dan 2.18% di pedesaan. Gula pasir, andil 2.06% di perkotaan dan 2.89 di pedesaan. Tempe ikut serta andil penyumbang kemiskinan sebesar 1.65% di perkotaan dan 1.54% di pedesaan. <\/p>\n\n\n\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Walau pamornya memudar, tembakau Deli<\/a> punya posisi penting dalam sejarah tembakau dunia. Menurut Dr. Agus Widiatmoko, Kepala Subdit Penulisan Sejarah Direktorat Sejarah, Kemendikbud, tembakau Deli merupakan satu-satunya varietas tembakau yang tumbuh di Indonesia sebagai tembakau cerutu berkualitas yang menjadi favorit di Eropa. \u201cPenanaman dan pengolahan tembakau Deli sebagai bahan baku cerutu merupakan salah satu dari penghasil cerutu terbaik selain negara Kuba,\u201d terang Agus Widiatmoko.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Deli sempat mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-19 dan sempat menguasai pasar dunia terutama di Eropa. Selain itu, menurutnya, pengetahuan budidaya tembakau dan keahlian mengolah tembakau sebagai bahan cerutu berkualitas hanya ada di Indonesia dan Kuba.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cPengetahuan ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia sebagai heritage<\/em> atau warisan dunia,\u201d pungkasnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n
\r\n

https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=ntZH2ercDLM[\/embed]<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/figure>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5878","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5871,"post_author":"877","post_date":"2019-07-17 11:58:27","post_date_gmt":"2019-07-17 04:58:27","post_content":"\n

\u201cRokok ini terus naik, inflasi dari rokok ini naik. Rokok naik kok nggak ada yang komplain ya. Pelan-pelan ini naik kontribusi rokoknya meningkat di kota12.22% di desa 11.36% kalau dibandingkan posisi Maret dan September,\u201d kata Suhariyanto Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin 15 Juli 2019.<\/p>\n\n\n\n

Menurut BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia per bulan Maret 2019 tercatat menurun hingga 9.41% dari bulan September 2018 sebesar 9.66%. Masih ada sekitar 25.14 juta orang Indonesia kategori miskin. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, harga rokok memiliki andil terhadap faktor kemiskinan 11.38% di pedesaan dan 12.22% di perkotaan.<\/strong> Artinya, semakin tinggi harga rokok, maka akan semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Merokok Adalah Hiburan Masyarakat Desa<\/a><\/p>\n\n\n\n

BPS merilis komoditas penyumbang kemiskinan menurut urutannya meliputi: beras, rokok kretek, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, hingga tempe dan tahu.<\/strong> Artinya penyumbang kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan adalah bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Beras memiliki andil kemiskinan sebesar 20.59% di perkotaan dan 25.97% di pedesaan. Rokok memiliki andil 12.22%  di perkotaan dan 11.36% di Pedesaan. Telur ayam ras memiliki andil 4.26% di perkotaan dan 3.53% di Pedesaan. Daging ayam ras memiliki andil 3.83% di perkotaan dan 2.20 di pedesaan. Mie instan, andil 2.40% di perkotaan dan 2.18% di pedesaan. Gula pasir, andil 2.06% di perkotaan dan 2.89 di pedesaan. Tempe ikut serta andil penyumbang kemiskinan sebesar 1.65% di perkotaan dan 1.54% di pedesaan. <\/p>\n\n\n\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cPengetahuan ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia sebagai heritage<\/em> atau warisan dunia,\u201d pungkasnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n
\r\n

https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=ntZH2ercDLM[\/embed]<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/figure>\r\n","post_title":"Perempuan-perempuan Pemegang Rahasia Mutu Tembakau Deli","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perempuan-perempuan-pemegang-rahasia-mutu-tembakau-deli","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:21:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:21:39","post_content_filtered":"\r\n

Walau pamornya memudar, tembakau Deli<\/a> punya posisi penting dalam sejarah tembakau dunia. Menurut Dr. Agus Widiatmoko, Kepala Subdit Penulisan Sejarah Direktorat Sejarah, Kemendikbud, tembakau Deli merupakan satu-satunya varietas tembakau yang tumbuh di Indonesia sebagai tembakau cerutu berkualitas yang menjadi favorit di Eropa. \u201cPenanaman dan pengolahan tembakau Deli sebagai bahan baku cerutu merupakan salah satu dari penghasil cerutu terbaik selain negara Kuba,\u201d terang Agus Widiatmoko.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Deli sempat mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-19 dan sempat menguasai pasar dunia terutama di Eropa. Selain itu, menurutnya, pengetahuan budidaya tembakau dan keahlian mengolah tembakau sebagai bahan cerutu berkualitas hanya ada di Indonesia dan Kuba.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cPengetahuan ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia sebagai heritage<\/em> atau warisan dunia,\u201d pungkasnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n
\r\n

https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=ntZH2ercDLM[\/embed]<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/figure>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5878","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5871,"post_author":"877","post_date":"2019-07-17 11:58:27","post_date_gmt":"2019-07-17 04:58:27","post_content":"\n

\u201cRokok ini terus naik, inflasi dari rokok ini naik. Rokok naik kok nggak ada yang komplain ya. Pelan-pelan ini naik kontribusi rokoknya meningkat di kota12.22% di desa 11.36% kalau dibandingkan posisi Maret dan September,\u201d kata Suhariyanto Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin 15 Juli 2019.<\/p>\n\n\n\n

Menurut BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia per bulan Maret 2019 tercatat menurun hingga 9.41% dari bulan September 2018 sebesar 9.66%. Masih ada sekitar 25.14 juta orang Indonesia kategori miskin. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, harga rokok memiliki andil terhadap faktor kemiskinan 11.38% di pedesaan dan 12.22% di perkotaan.<\/strong> Artinya, semakin tinggi harga rokok, maka akan semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Merokok Adalah Hiburan Masyarakat Desa<\/a><\/p>\n\n\n\n

BPS merilis komoditas penyumbang kemiskinan menurut urutannya meliputi: beras, rokok kretek, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, hingga tempe dan tahu.<\/strong> Artinya penyumbang kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan adalah bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Beras memiliki andil kemiskinan sebesar 20.59% di perkotaan dan 25.97% di pedesaan. Rokok memiliki andil 12.22%  di perkotaan dan 11.36% di Pedesaan. Telur ayam ras memiliki andil 4.26% di perkotaan dan 3.53% di Pedesaan. Daging ayam ras memiliki andil 3.83% di perkotaan dan 2.20 di pedesaan. Mie instan, andil 2.40% di perkotaan dan 2.18% di pedesaan. Gula pasir, andil 2.06% di perkotaan dan 2.89 di pedesaan. Tempe ikut serta andil penyumbang kemiskinan sebesar 1.65% di perkotaan dan 1.54% di pedesaan. <\/p>\n\n\n\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tembakau Deli sempat mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-19 dan sempat menguasai pasar dunia terutama di Eropa. Selain itu, menurutnya, pengetahuan budidaya tembakau dan keahlian mengolah tembakau sebagai bahan cerutu berkualitas hanya ada di Indonesia dan Kuba.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cPengetahuan ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia sebagai heritage<\/em> atau warisan dunia,\u201d pungkasnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n
\r\n

https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=ntZH2ercDLM[\/embed]<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/figure>\r\n","post_title":"Perempuan-perempuan Pemegang Rahasia Mutu Tembakau Deli","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perempuan-perempuan-pemegang-rahasia-mutu-tembakau-deli","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:21:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:21:39","post_content_filtered":"\r\n

Walau pamornya memudar, tembakau Deli<\/a> punya posisi penting dalam sejarah tembakau dunia. Menurut Dr. Agus Widiatmoko, Kepala Subdit Penulisan Sejarah Direktorat Sejarah, Kemendikbud, tembakau Deli merupakan satu-satunya varietas tembakau yang tumbuh di Indonesia sebagai tembakau cerutu berkualitas yang menjadi favorit di Eropa. \u201cPenanaman dan pengolahan tembakau Deli sebagai bahan baku cerutu merupakan salah satu dari penghasil cerutu terbaik selain negara Kuba,\u201d terang Agus Widiatmoko.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Deli sempat mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-19 dan sempat menguasai pasar dunia terutama di Eropa. Selain itu, menurutnya, pengetahuan budidaya tembakau dan keahlian mengolah tembakau sebagai bahan cerutu berkualitas hanya ada di Indonesia dan Kuba.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cPengetahuan ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia sebagai heritage<\/em> atau warisan dunia,\u201d pungkasnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n
\r\n

https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=ntZH2ercDLM[\/embed]<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/figure>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5878","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5871,"post_author":"877","post_date":"2019-07-17 11:58:27","post_date_gmt":"2019-07-17 04:58:27","post_content":"\n

\u201cRokok ini terus naik, inflasi dari rokok ini naik. Rokok naik kok nggak ada yang komplain ya. Pelan-pelan ini naik kontribusi rokoknya meningkat di kota12.22% di desa 11.36% kalau dibandingkan posisi Maret dan September,\u201d kata Suhariyanto Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin 15 Juli 2019.<\/p>\n\n\n\n

Menurut BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia per bulan Maret 2019 tercatat menurun hingga 9.41% dari bulan September 2018 sebesar 9.66%. Masih ada sekitar 25.14 juta orang Indonesia kategori miskin. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, harga rokok memiliki andil terhadap faktor kemiskinan 11.38% di pedesaan dan 12.22% di perkotaan.<\/strong> Artinya, semakin tinggi harga rokok, maka akan semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Merokok Adalah Hiburan Masyarakat Desa<\/a><\/p>\n\n\n\n

BPS merilis komoditas penyumbang kemiskinan menurut urutannya meliputi: beras, rokok kretek, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, hingga tempe dan tahu.<\/strong> Artinya penyumbang kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan adalah bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Beras memiliki andil kemiskinan sebesar 20.59% di perkotaan dan 25.97% di pedesaan. Rokok memiliki andil 12.22%  di perkotaan dan 11.36% di Pedesaan. Telur ayam ras memiliki andil 4.26% di perkotaan dan 3.53% di Pedesaan. Daging ayam ras memiliki andil 3.83% di perkotaan dan 2.20 di pedesaan. Mie instan, andil 2.40% di perkotaan dan 2.18% di pedesaan. Gula pasir, andil 2.06% di perkotaan dan 2.89 di pedesaan. Tempe ikut serta andil penyumbang kemiskinan sebesar 1.65% di perkotaan dan 1.54% di pedesaan. <\/p>\n\n\n\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Walau pamornya memudar, tembakau Deli<\/a> punya posisi penting dalam sejarah tembakau dunia. Menurut Dr. Agus Widiatmoko, Kepala Subdit Penulisan Sejarah Direktorat Sejarah, Kemendikbud, tembakau Deli merupakan satu-satunya varietas tembakau yang tumbuh di Indonesia sebagai tembakau cerutu berkualitas yang menjadi favorit di Eropa. \u201cPenanaman dan pengolahan tembakau Deli sebagai bahan baku cerutu merupakan salah satu dari penghasil cerutu terbaik selain negara Kuba,\u201d terang Agus Widiatmoko.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Deli sempat mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-19 dan sempat menguasai pasar dunia terutama di Eropa. Selain itu, menurutnya, pengetahuan budidaya tembakau dan keahlian mengolah tembakau sebagai bahan cerutu berkualitas hanya ada di Indonesia dan Kuba.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cPengetahuan ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia sebagai heritage<\/em> atau warisan dunia,\u201d pungkasnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n
\r\n

https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=ntZH2ercDLM[\/embed]<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/figure>\r\n","post_title":"Perempuan-perempuan Pemegang Rahasia Mutu Tembakau Deli","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perempuan-perempuan-pemegang-rahasia-mutu-tembakau-deli","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:21:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:21:39","post_content_filtered":"\r\n

Walau pamornya memudar, tembakau Deli<\/a> punya posisi penting dalam sejarah tembakau dunia. Menurut Dr. Agus Widiatmoko, Kepala Subdit Penulisan Sejarah Direktorat Sejarah, Kemendikbud, tembakau Deli merupakan satu-satunya varietas tembakau yang tumbuh di Indonesia sebagai tembakau cerutu berkualitas yang menjadi favorit di Eropa. \u201cPenanaman dan pengolahan tembakau Deli sebagai bahan baku cerutu merupakan salah satu dari penghasil cerutu terbaik selain negara Kuba,\u201d terang Agus Widiatmoko.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Deli sempat mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-19 dan sempat menguasai pasar dunia terutama di Eropa. Selain itu, menurutnya, pengetahuan budidaya tembakau dan keahlian mengolah tembakau sebagai bahan cerutu berkualitas hanya ada di Indonesia dan Kuba.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cPengetahuan ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia sebagai heritage<\/em> atau warisan dunia,\u201d pungkasnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n
\r\n

https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=ntZH2ercDLM[\/embed]<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/figure>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5878","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5871,"post_author":"877","post_date":"2019-07-17 11:58:27","post_date_gmt":"2019-07-17 04:58:27","post_content":"\n

\u201cRokok ini terus naik, inflasi dari rokok ini naik. Rokok naik kok nggak ada yang komplain ya. Pelan-pelan ini naik kontribusi rokoknya meningkat di kota12.22% di desa 11.36% kalau dibandingkan posisi Maret dan September,\u201d kata Suhariyanto Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin 15 Juli 2019.<\/p>\n\n\n\n

Menurut BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia per bulan Maret 2019 tercatat menurun hingga 9.41% dari bulan September 2018 sebesar 9.66%. Masih ada sekitar 25.14 juta orang Indonesia kategori miskin. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, harga rokok memiliki andil terhadap faktor kemiskinan 11.38% di pedesaan dan 12.22% di perkotaan.<\/strong> Artinya, semakin tinggi harga rokok, maka akan semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Merokok Adalah Hiburan Masyarakat Desa<\/a><\/p>\n\n\n\n

BPS merilis komoditas penyumbang kemiskinan menurut urutannya meliputi: beras, rokok kretek, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, hingga tempe dan tahu.<\/strong> Artinya penyumbang kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan adalah bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Beras memiliki andil kemiskinan sebesar 20.59% di perkotaan dan 25.97% di pedesaan. Rokok memiliki andil 12.22%  di perkotaan dan 11.36% di Pedesaan. Telur ayam ras memiliki andil 4.26% di perkotaan dan 3.53% di Pedesaan. Daging ayam ras memiliki andil 3.83% di perkotaan dan 2.20 di pedesaan. Mie instan, andil 2.40% di perkotaan dan 2.18% di pedesaan. Gula pasir, andil 2.06% di perkotaan dan 2.89 di pedesaan. Tempe ikut serta andil penyumbang kemiskinan sebesar 1.65% di perkotaan dan 1.54% di pedesaan. <\/p>\n\n\n\n

Diluar bahan pokok makanan, turut serta menyumbang kemiskinan antara lain adalah perumahan, bahan bakar BBM, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.\u00a0<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Terlihat dari data BPS, penyumbang kemiskinan di Indonesia adalah kebutuhan primer. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer masih relatif tinggi. Namun yang perlu dicermati, apakah pengeluaran untuk kebutuhan primer di atas masih pada batas kewajaran atau tidak, perlu ada kajian lebih lanjut. Ada dua hal yang perlu dicermati, yaitu; masalah harga atau masalah berlebihan konsumsi<\/strong>. Yang nomor dua saya kira tidak terjadi, kalau pun terjadi tidak mayoritas, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mungkin mengonsumsi atau hidup berlebihan. Dan tidak signifikan jika menjadi masalah penyumbang kemiskinan. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan yang nomor satu mengenai harga, lebih signifikan penyumbang kemiskinan. Semakin tinggi harga bahan pokok keperluan sehari-hari dan harga kebutuhan primer di atas maka semakin tinggi pengaruhnya sebagai penyumbang kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer sebagai satu kebutuhan wajib sebagai manusia yang memerlukan pangan papan dan sandang. Seperti beras, tiap manusia hidup perlu makan, bahan pokok makan bagi masyarakat Indonesia mayoritas nasi. Makan rata-rata tiga kali dalam sehari. Perumahan, juga penting sebagai tempat tinggal untuk keamanan, kenyamanan dan kemandirian. Bahan bakar, listrik, pendidikan juga sebagai penunjang orang untuk bekerja dan hidup. Tidak kalah pentingnya, merokok sebagai relaksasi dan rekreasi. Daging, telur, tahu dan tempe penunjang untuk gizi manusia dan seterusnya. <\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika BPS merilis bahwa penyumbang kemiskinan adalah kebutuhan primer di atas, menjadi wajar. Karena kebutuhan di atas adalah kebutuhan untuk syarat dan hajat hidup manusia. Semakin bertambah manusia, juga akan semakin bertambah keperluan kebutuhan primer. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, harus menjadi dasar pembangunan pemerintah ke depan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia, terlebih program pengentasan kemeskinan. Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah mengatasi penyebab kemiskinan sebagaimana temuan BPS. Yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah menurunkan harga atau mensubsidi agar pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan primer tidak terlalu tinggi. Pemerintah tidak akan bisa menghilangkan komoditas, baik makanan atau non makanan di atas agar tingkat kemiskinan menurun. Alasannya cukup jelas, bahwa komoditas di atas adalah kebutuhan primer masyarakat Indonesia, untuk pangan papan dan sandang. Sekali lagi yang hanya bisa dilakukan pemerintah hanyalah menurunkan harga komoditas tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Temuan BPS di atas, juga seharusnya sebagai masukan dan dasar bea cukai dan menteri perekonomian, untuk tidak menaikkan lagi cukai rokok kretek (rokok asli Indonesia). Seperti halnya apa yang telah dikatakan Suhariyanto sebagai Kepala BPS di atas, bahwa yang dimaksudkan adalah harga rokok turut andil menjadi faktor kemiskinan. Dengan kata lain, jika harga rokok murah, maka kemiskinan akan menurun. Mahal dan murahnya rokok faktor utamanya adalah pungutan pajak pemerintah melalui cukai. Jika dihitung sederhana, 60% dalam satu batang rokok adalah pungutan cukai. Asumsi sederhananya, seumpama harga eceran rokok Rp 1000, maka yang masuk pemerintah adalah Rp 600, dan Rp 400 milik industri. Dari Rp 400 bagian industri dibagi untuk biaya produksi yang meliputi biaya beli bahan baku (tembakau, cengkeh, ketas, lem, dll) juga biaya karyawan dan operasional, baru keuntungan. <\/p>\n\n\n\n

Jadi pada dasarnya, yang mendapatkan keuntungan paling banyak pada sektor pertembakauan adalah pemerintah, dan tidak menanggung resiko. Laku dan tidak lakunya rokok adalah resiko industri, bukan urusan pemerintah. Apalagi, semua pungutan cukai harus dibayar oleh industri dimuka. Artinya pungutan cukai dalam satu batang rokok harus dibayar industri dimuka, sebagai dana talangan sebelum rokok terjual. Asumsinya, jika rokok tidak terjual, maka kerugian yang menanggung industri, bukan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, dari temuan BPS di atas, pemerintah harus mengambil kebijakan yang mengarah demi kesejahteraan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang disebabkan komoditas di atas sebagai kebutuhan primer, dengan menurunkan harga atau mensubsidi semua komoditas primer tanpa terkecuali. 
<\/p>\n","post_title":"Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badan-pusat-statistik-mendorong-komplain-terhadap-naiknya-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-17 11:58:30","post_modified_gmt":"2019-07-17 04:58:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5871","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5868,"post_author":"883","post_date":"2019-07-16 12:18:51","post_date_gmt":"2019-07-16 05:18:51","post_content":"\n

Baru-baru ini media tengah menyoroti  aksi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang merobek-robek iklan rokok berupa poster dan stiker di sebuah warung. Dengan sedikit drama, bapak Bupati terlihat seperti mencak-mencak sendiri sembari mengatakan bahwa Kabupaten Klungkung di era kepemimpinannya harus bebas dari segala macam bentuk iklan rokok dan tertib KTR (Kawasan Tanpa Rokok).
<\/p>\n\n\n\n

Aksi sobek-sobek dan mencak-mencak Bupati Klungkung sangatlah berlebihan. Dikarenakan penegakan KTR tidak bisa berjalan dengan baik jika aksinya dilakukan dengan drama. Terlebih penegakannya juga tidak melalui pemahaman yang baik mengenai regulasi KTR.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Revisi Perda KTR Surabaya Ancam Keberlangsungan Pelaku Industri Hasil Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bupati Klungkung seharusnya tahu bahwa regulasi KTR dibuat bukan untuk meniadakan aktivitas merokok dan kegiatan IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah tersebut. Bahkan regulasi KTR di dalamnya terdapat amanat pemenuhan hak-hak kegiatan IHT, seperti penyediaan ruang merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Secara eksplisit aturan KTR  yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Kesehatan nomor 36 tahun 2009 hanyalah menyebutkan wilayah-wilayah ditetapkannya KTR. Barulah pada Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 aturan mengenai KTR diperluas lagi misal, larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau.
<\/h4>\n\n\n\n

Meskipun secara aturan sudah memiliki payung hukum yang jelas, point permasalahannya ada di penjelasan mengenai makna KTR itu sendiri. Sebab banyak penafsiran yang berbeda-beda mengenai KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam PP 109 tahun 2012, Kawasan Tanpa Rokok dijabarkan sebagai ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan\/atau mempromosikan Produk Tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Dari penjelasan tersebut jika dilihat hanya dari pengertian umumnya, maka memang terlihat KTR merupakan wilayah yang melarang aktivitas IHT di dalamnya. Namun jika kita melihat lagi penjabaran aturan KTR pada pasal-pasal selanjutnya, justu salah kaprah jika tafsir KTR saklek ditafsirkan sebagai penetapan wilayah yang melarang adanya aktivitas IHT.
<\/p>\n\n\n\n

Pada pasal 50 PP 109 tahun 2012 dijelaskan bahwa \u201cLarangan kegiatan produksi, menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok\u201d.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Merobek-robek iklan rokok seperti yang dilakukan Bupati Klungkung bisa disebut berlebihan jika merujuk pada pasal 50 PP 109 tahun 2012, apalagi sampai melarang-larang untuk melakukan kegiatan iklan dan promosi, itu jelas bertentangan dengan hukum perundangan-undangan.<\/p>\n\n\n\n

Persoalan KTR janganlah dijadikan drama-dramaan, spirit-nya harus benar-benar untuk melindungi hak kedua belah pihak, hak perokok dan bukan perokok. Sosialisasikan dengan baik tentang aturan KTR kepada masyarakat, sehingga masyarakat teredukasi, bukannya malah drama sambil diliput media, jadinya malah terlihat isu KTR hanyalah pencitraan semata.
<\/p>\n\n\n\n

Perokok sangatlah mendukung penegakan KTR yang sesuai dengan asas perundang-undangan, bahkan siap membantu jika diperlukan. Perokok dapat mengedukasi perokok lainnya mengenai aturan KTR. Ini bisa membantu pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan tertib KTR.
<\/p>\n\n\n\n

Terakhir, kami berpesan kepada Bupati Klungkung bersikaplah adil kepada IHT (Industri Hasil Tembakau) di wilayah kepemimpinan anda. Sebab IHT turut berkontribusi atas pendapatan daerah Kabupaten Klungkung. Silahkan lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2019, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu Kabupaten yang kebagian DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau).
<\/p>\n","post_title":"Wahai Bupati Klungkung, Pahamilah dengan Baik Aturan Kawasan Tanpa Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"wahai-bupati-klungkung-pahamilah-dengan-baik-aturan-kawasan-tanpa-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-16 12:18:58","post_modified_gmt":"2019-07-16 05:18:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5868","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5865,"post_author":"877","post_date":"2019-07-15 10:48:38","post_date_gmt":"2019-07-15 03:48:38","post_content":"\n

Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n


Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n


Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n


Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n

Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok.
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n

Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n


Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n


Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n


Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n


Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5858,"post_author":"883","post_date":"2019-07-13 12:08:55","post_date_gmt":"2019-07-13 05:08:55","post_content":"\n

Maraknya kehadiran rokok elektronik kian menyudutkan kretek sebagai entitas produk khas Indonesia. Rokok elektronik seakan menawarkan sesuatu yang futuristik, modernitas dan yang lebih menyebalkan dibranding seakan lebih baik ketimbang kretek. Benarkah demikian?
<\/p>\n\n\n\n

Branding futuristik dan modern hanyalah marketing belaka, secara sederhana rokok elektronik hanyalah bagian dari inovasi. Inovasi tentunya selain berkaitan dengan produk, hal lainnya adalah efisiensi. 
<\/p>\n\n\n\n

Berbeda dengan kretek yang sangat memaksimalkan daya guna dari hulu ke hilir Industri Hasil Tembakau, rokok elektronik justru mengefisiensi besar-besaran daya guna tersebut. 
<\/p>\n\n\n\n

Di hulu misalnya, jika kretek menyerap sangat besar komoditas tembakau dan cengkeh dari hasil panen para petani, rokok elektronik hanya menyerap sebagian dari komoditas tembakau, tidak ada cengkeh, dan belum jelas berapa serapannya terhadap tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Konsep rokok elektronik menggunakan cairan liquid yang diambil dari ekstraksi tembakau, terdapat juga kandungan lainnya seperti Air, PG (propylene glycol) atau VG (vegetable glycerin), dan Flavoring (pemberi aroma) dari perasa makanan dengan berbagai pilihan rasa seperti rasa buah-buahan dan sejenisnya.
<\/p>\n\n\n\n

Bisa kita lihat berdasarkan bahan baku tersebut, rokok elektronik menyerap tembakau sangat kecil dibandingkan kretek yang menyerap hampir 100 persen dari total produksi tembakau nasional dan 90 persen total produksi cengkeh nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tinjau lagi kemudian dari sisi produksi. Sampai dengan saat ini produk rokok elektronik merupakan barang imporan, belum ada informasi detail mengenai pabrik pembuatannya. 
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun jika merujuk data Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) per 2018, industri rokok elektrik di Indonesia telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja. Namun dari Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Ketenagakerjaan belum ada data resmi terkait serapan tenaga kerja industri vape di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan sektor kretek, menurut data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang diserap sektor ini sebanyak 5,9 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi. Sementara sisanya 1,7 juta pekerja di sektor perkebunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jelas secara serapan ketenagakerjaan, industri vape tidak apple to apple dengan industri kretek. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, kretek telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Itu baru perbandingan dari sisi manufaktur, belum dari sisi perdagangan. Kretek turut melibatkan pedagang retail hingga asongan. Kretek berkontribusi besar bagi UMKM di Indonesia. Cek saja warung agen, toko kelontong dan penjaja asongan, rerata terdapat produk kretek dalam barang dagangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen. 
<\/p>\n\n\n\n

Bayangkan betapa besarnya roda perekonomian yang digerakan oleh sektor UMKM. Sementara jika berbicara rokok elektronik apakah produk ini dijual oleh unit-unit UMKM? Tentu tidak, rokok elektronik hanya dijual di store-store tertentu dan segelintir orang yang berbisnis rokok elektronik.
<\/p>\n\n\n\n

Terdapat daya guna lain yang dimaksimalkan oleh kretek, selain daripada sektor ekonomi, yakni daya guna kretek sebagai produk kebudayaan masyarakat Indonesia. Kretek disebut sebagai produk khas Indonesia, komposisi produk ini memiliki kekhasan, tembakau dan cengkeh sebagai tanaman endemik Indonesia. Kretek juga hidup berdampingan dengan prosesi-prosesi kebudayaan masyarakat Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok elektronik tidak memiliki keistimewaan daya guna sebagai produk kebudayaan. Tidak ada persinggungan apapun dengan prosesi kebudayaan bangsa Indonesia. Ia lahir karena gairah kapitalisme global yang sedang bernafsu menyingkirkan kretek sebagai produk hasil tembakau yang khas.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Lebih Baik Ketimbang Rokok Elektronik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-lebih-baik-ketimbang-rokok-elektronik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-13 12:08:57","post_modified_gmt":"2019-07-13 05:08:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5858","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5855,"post_author":"886","post_date":"2019-07-12 10:42:19","post_date_gmt":"2019-07-12 03:42:19","post_content":"\n

Srinthil, demikianlah namanya. Srinthil ini tentu bukanlah nama seorang ronggeng, penari tayub, berasal dari Dukuh Paruk yang diceritakan dalam novel karya Ahmad Tohari. Srinthil ini adalah nama tembakau lokal.<\/p>\n\n\n\n

Demikian sangat spesifiknya entitas tembakau ini, Srinthil hanya dapat muncul di daerah Temanggung. Itupun tak muncul di seluruh daerah di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Terletak persis di bagian tengah Pulau Jawa, Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah memiliki luas wilayah 870,65 km2. Terutaman terdiri dari kawasan pegunungan pada ketinggian 500--1.600 meter di atas permukaan laut, bersuhu rata-rata 20 \u2013 30? C.<\/p>\n\n\n\n

Areal tembakau tersebar di 15 kecamatan. Membentang di kaki dan lereng tiga gunung, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prahu, di dataran tinggi berhawa sejuk inilah terhampar ladang-ladang tembakau sebagai tanaman musiman yang menjadi salah satu sumber utama perekonomian daerah sekaligus masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n

Dengan jenis tanah, ketinggian, suhu, paparan sinar matahari dan ketersediaan air yang berbeda-beda, maka setiap kecamatan penghasil tembakau di Temanggung memiliki produktivitas lahan dan mutu daun tembakau yang beragam pula.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srintil, Tembakau Terbaik dan Termahal di Dunia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Namun demikian tembakau rajangan Temanggung dikenal memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis-jenis tembakau dari daerah lain. Oleh masyarakat setempat, khususnya pada jenis-jenis tembakau yang berasal dari daerah lereng timur Sumbing juga di sebagian kecil lereng Sindoro dan Prahu, seringkali lebih berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma (flavor grade<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Tembakau jenis ini diibaratkan serupa lauk pada sepiring nasi. Tak heran masyarakat setempat secara lingua franca<\/em> menamainya \u201ctembakau lauk.\u201d Disebut demikian karena jenis ini memiliki rasa dan aroma khas.<\/p>\n\n\n\n

Jenis ini berfungsi sebagai bahan racikan (bland<\/em>), di mana komposisi tembakau Temanggung berkisar antara 12--24% bercampur dengan beragam jenis tembakau lokal daerah lain untuk membuat sebuah produk kretek.<\/p>\n\n\n\n

Jika cerutu Kuba baru diakui kualitasnya setelah dicampur tembakau Vuelta Abajo, maka kretek<\/em> produksi Indonesia belum absah sebagai kretek<\/em> terbaik jika tak mengandung tembakau Srinthil dari Temanggung. Tak heran Mark Hanusz dalam \u201cThe Culture and Heritage of Indonesia\u2019s Clove Cigarette\u201d<\/em> (2000) menjuluki tembakau lauk asal Temanggung itu sebagai \u2018Vuelta Abajo\u2019-nya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Bicara kualitas mutu tembakau sendiri dipengaruhi oleh posisi daun pada batang. Semakin tinggi posisi daunnya semakin tinggi mutunya. Makin tinggi posisi daun makin tinggi kadar nikotinnya. Juga semakin tinggi tempat tanamnya, maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin juga semakin panjang. Ini mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sebutlah itu tembakau Lamuk<\/em>. Ini ialah jenis mutu tembakau terbaik. Dihasilkan di lereng utara dan timur Sumbing. Tembakau Lamsi juga berasal dari lereng utara dan timur gunung itu, kualitasnya berada di bawah jenis Lamuk. Tembakau Paksi berasal dari lahan tegal di lereng utara dan timur Sindoro.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau Toalo berasal dari lereng barat dan selatan Sumbing, berada di Desa Tegalrejo sampai Parakan. Tembakau Kidul berasal dari lereng timur Sumbing yang berbatasan dengan penghasil jenis Lamsi dan Tionggang. Jenis Tionggang atau juga biasa disebut tembakau sawah<\/em> dihasilkan dari lahan sawah di sebelah selatan dan tenggara Sindoro. Tembakau Swanbing adalah tembakau yang dihasilkan di lereng Prahu.<\/p>\n\n\n\n

Nah<\/em>, posisi tembakau Srinthil berada di puncak hirarki dari tembakau lauk. Selama ini, fenomena Srinthil tercatat hanya biasa muncul di Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Srinthil juga rasanya lebih berat. Hasil analisis Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada 2013 terhadap contoh tembakau Srinthil, ternyata memiliki kadar nikotin bervariasi antara 5,05%--7,58%.<\/p>\n\n\n\n

Fenomena Srinthil hanya dapat muncul dari hasil tembakau yang dihasilkan di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat di ketinggian itu serta-merta dapat menghasilkan Srinthil. Bahkan pada lahan yang sama di masa panen berbeda, bisa jadi pada suatu momen tertentu menghasilkan Srinthil tetapi pada momen lain ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil\u00a0Srinthil<\/em>, mutu istimewa itu hanya akan terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering dan muncul dari jenis varitas tembakau lokal yang bernama\u00a0Kemloko<\/em>,\u00a0Kemloko 1<\/em>\u00a0dan\u00a0Kemloko 2<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun tembakau itu dipetik dan digulung rapi, sebelum dirajang, petani di daerah-daerah tersebut di atas akan berharap-harap cemas bisa menghasilkan Srinthil. Pemeraman bertujuan mengubah warna daun dari hijau menjadi kuning sampai coklat. Muncul puthur kuning<\/em> saat diperam, demikian sering disebut oleh masyarakat lokal. Puthur kuning<\/em> yaitu semacam mikro organisme berwarna kuning dan mengeluarkan cairan dan aroma mirip alkohol.<\/p>\n\n\n\n

Pemeraman sendiri merupakan proses fermentasi yang dikatalisir oleh enzim-enzim tertentu. Proses ini dilakukan secara alami, mengandalkan sumber energi hasil pemecahan pati menjadi gula dan selanjutnya gula menjadi CO2 dan H2O ditambah energi.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Daun yang berpotensi menjadi Srinthil mulai diketahui setelah diperam lima hari. Daun itu berubah warna menjadi coklat kehitaman. Pemeraman akan diteruskan jika muncul tanda-bahwa menjadi Srinthil. Daun tembakau yang diperam itu tidak bakalan busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat tetapi menjadi hancur menggumpal, dan bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat.<\/p>\n\n\n\n

Pada \u201ctembakau temanggungan\u201d demikian lazim disebut, kualitas mutu rendah yang berasal dari daun posisi bawah cenderung memiliki warna hijau kekuningan cerah; sedang semakin tinggi mutunya yang berasal dari daun posisi atas maka warnanya juga cenderung menjadi makin kehitaman bahkan hitam berkilat (bahasa Jawa: \u201cnyamber lilen\u201d<\/em>).<\/p>\n\n\n\n

Kualitas mutu yang berbeda juga berpengaruh pada harga yang berbeda. Jika harga rerata tembakau per kilogram di Temanggung berkisar antara Rp40.000 hingga Rp125.000, maka untuk jenis Srinthil harganya bisa berkisar antara  Rp600.000 hingga 1 juta.<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan, merujuk pada buku yang berjudul Kretek\u2014Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota<\/em> diestimasi, peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen di Temanggung mencapai lebih dari 2 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis, melebihi buget APBD Kabupaten Temanggung pada 2018.<\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, ilmu pengetahuan modern, khususnya di pusat-pusat penelitian budidaya tembakau, secara saintifik memang belum mampu mengungkap secara ilmiah rahasia dari kemunculan sang primadona itu. Berbagai eksperimen untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas mutu Srinthil<\/em> tentu telah dilakukan berulang kali.<\/h4>\n\n\n\n

Dengan memanfaatkan mikroorganisme yakni puthur kuning<\/em>, yaitu dengan mekanisme diisolasi, inokulasi dan disemprotkan ke daun tembakau, tapi ternyata hasilnya tetap saja nisbi tidak terjadi. Mikroorganisme itu tak berhasil berkembang sehingga pemeraman daun tembakau itu akhirnya juga tidak berhasil mengeluakan kualitas mutu Srinthil. Ya, selalu gagal.<\/p>\n\n\n\n

Karena kualitas mutu Srinthil tidak bisa diciptakan, maka kedatangan si primadona ini oleh masyarakat Temanggung sering dilekatkan dengan aspek mistik. Konon, daun tembakau yang bakal menjadi Srinthil itu, pada malam hari akan tampak mengeluarkan cahaya kuning di kegelapan.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian masyarakat petani percaya, cahaya itu diturunkan oleh para dewa di langit. Srinthil bagi mereka adalah suatu \u2018pulung\u2019 <\/em>atau \u2018ndaru rigen\u2019<\/em>, sebuah keberuntungan atau berkah yang tidak dapat direncanakan oleh manusia dan semata terjadi karena kuasa Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Primadona Itu Bernama Srinthil","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"primadona-itu-bernama-srinthil","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-12 10:42:26","post_modified_gmt":"2019-07-12 03:42:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5855","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};