Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n