\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Maksudnya, membujuk aku untuk ikut liburan bersama keluarga dan karyawannya. Sebetulnya, dalam hati kecil aku ingin ikut, namun apa daya, aku harus merawat guru juga kiai yang sudah aku anggap simbah sendiri. Semoga liburanmu dipantai Kartini Jepara dihari \u201ckupatan\u201d ini menyenangkan, apalagi ditemani rokok kretek dan kopi muria. <\/p>\n","post_title":"\u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kupatan-di-pantura-asyiknya-berlibur-berbekal-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-12 07:46:54","post_modified_gmt":"2019-06-12 00:46:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5779","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5777,"post_author":"883","post_date":"2019-06-11 07:50:25","post_date_gmt":"2019-06-11 00:50:25","post_content":"\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Di penghujung obrolan, ia bercerita sambil mengajak liburan \u201ckupatan\u201d bersama karyawannya ke pantai kartini Jepara. Ia pun berkata kalau barang yang akan dibawa saat berlibur pun telah disiapkan, seperti membawa makanan ketupat, membawa opor ayam, membawa sayur lodeh gori, semur ikan kutuk dan semur tahu spesial buatan ibunya. Tidak kalah nikmatnya, ia juga telah menyiapkan rokok kretek Djarum Super dua press bersama bubuk kopi robusta asal lereng gunung muria. Ia menenteng rokok dan kopi sembari diangkat kearah wajahku, supaya aku melihatnya. <\/p>\n\n\n\n


Maksudnya, membujuk aku untuk ikut liburan bersama keluarga dan karyawannya. Sebetulnya, dalam hati kecil aku ingin ikut, namun apa daya, aku harus merawat guru juga kiai yang sudah aku anggap simbah sendiri. Semoga liburanmu dipantai Kartini Jepara dihari \u201ckupatan\u201d ini menyenangkan, apalagi ditemani rokok kretek dan kopi muria. <\/p>\n","post_title":"\u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kupatan-di-pantura-asyiknya-berlibur-berbekal-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-12 07:46:54","post_modified_gmt":"2019-06-12 00:46:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5779","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5777,"post_author":"883","post_date":"2019-06-11 07:50:25","post_date_gmt":"2019-06-11 00:50:25","post_content":"\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Tradisi liburan saat \u201ckupatan\u201d tidak disia-siakan oleh Masrukin, seorang pengusahan Emas asal Kaliputu Kudus. Ia bersama keluarga dan karyawan rencana akan berlibur pergi ke pantai Jepara. Rencana tersebut diutarakan saat ia mengunjungiku. Ia teman kecil di taman bacaan makam Sasro Kartono Kaliputu Kudus. Dahulu, semasa kecil kita sering baca komik yang disediakan pihak pengelola makam. Kita tidak bertemu hampir empat tahun. Setelah tahu keberadaanku, ia menyempatkan diri bersama anak dan istrinya berkunjung ketempatku. Kita ngobrol sampai larut malam sambil merokok kesukaannnya Djarum Super. <\/p>\n\n\n\n


Di penghujung obrolan, ia bercerita sambil mengajak liburan \u201ckupatan\u201d bersama karyawannya ke pantai kartini Jepara. Ia pun berkata kalau barang yang akan dibawa saat berlibur pun telah disiapkan, seperti membawa makanan ketupat, membawa opor ayam, membawa sayur lodeh gori, semur ikan kutuk dan semur tahu spesial buatan ibunya. Tidak kalah nikmatnya, ia juga telah menyiapkan rokok kretek Djarum Super dua press bersama bubuk kopi robusta asal lereng gunung muria. Ia menenteng rokok dan kopi sembari diangkat kearah wajahku, supaya aku melihatnya. <\/p>\n\n\n\n


Maksudnya, membujuk aku untuk ikut liburan bersama keluarga dan karyawannya. Sebetulnya, dalam hati kecil aku ingin ikut, namun apa daya, aku harus merawat guru juga kiai yang sudah aku anggap simbah sendiri. Semoga liburanmu dipantai Kartini Jepara dihari \u201ckupatan\u201d ini menyenangkan, apalagi ditemani rokok kretek dan kopi muria. <\/p>\n","post_title":"\u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kupatan-di-pantura-asyiknya-berlibur-berbekal-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-12 07:46:54","post_modified_gmt":"2019-06-12 00:46:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5779","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5777,"post_author":"883","post_date":"2019-06-11 07:50:25","post_date_gmt":"2019-06-11 00:50:25","post_content":"\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Di Pati, Rembang, Juwana beda dengan Kudus. Tiga daerah tersebut tradisi \u201ckupatan\u201d hampir mirip dengan Jepara, karena sama-sama daerah pesisir pantai, sedang Kudus bukan daerah pantai. Tidak tanggung-tanggung menjadi kebiasaan tahun lalu, masyarakat nelayan di tiga daerah tersebut, mendatangkan hiburan besar besaran, sampai-sampai berani mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah, untuk biaya hiburan dangdut. <\/p>\n\n\n\n


Tradisi liburan saat \u201ckupatan\u201d tidak disia-siakan oleh Masrukin, seorang pengusahan Emas asal Kaliputu Kudus. Ia bersama keluarga dan karyawan rencana akan berlibur pergi ke pantai Jepara. Rencana tersebut diutarakan saat ia mengunjungiku. Ia teman kecil di taman bacaan makam Sasro Kartono Kaliputu Kudus. Dahulu, semasa kecil kita sering baca komik yang disediakan pihak pengelola makam. Kita tidak bertemu hampir empat tahun. Setelah tahu keberadaanku, ia menyempatkan diri bersama anak dan istrinya berkunjung ketempatku. Kita ngobrol sampai larut malam sambil merokok kesukaannnya Djarum Super. <\/p>\n\n\n\n


Di penghujung obrolan, ia bercerita sambil mengajak liburan \u201ckupatan\u201d bersama karyawannya ke pantai kartini Jepara. Ia pun berkata kalau barang yang akan dibawa saat berlibur pun telah disiapkan, seperti membawa makanan ketupat, membawa opor ayam, membawa sayur lodeh gori, semur ikan kutuk dan semur tahu spesial buatan ibunya. Tidak kalah nikmatnya, ia juga telah menyiapkan rokok kretek Djarum Super dua press bersama bubuk kopi robusta asal lereng gunung muria. Ia menenteng rokok dan kopi sembari diangkat kearah wajahku, supaya aku melihatnya. <\/p>\n\n\n\n


Maksudnya, membujuk aku untuk ikut liburan bersama keluarga dan karyawannya. Sebetulnya, dalam hati kecil aku ingin ikut, namun apa daya, aku harus merawat guru juga kiai yang sudah aku anggap simbah sendiri. Semoga liburanmu dipantai Kartini Jepara dihari \u201ckupatan\u201d ini menyenangkan, apalagi ditemani rokok kretek dan kopi muria. <\/p>\n","post_title":"\u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kupatan-di-pantura-asyiknya-berlibur-berbekal-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-12 07:46:54","post_modified_gmt":"2019-06-12 00:46:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5779","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5777,"post_author":"883","post_date":"2019-06-11 07:50:25","post_date_gmt":"2019-06-11 00:50:25","post_content":"\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Di Kudus, sebelum pergi berlibur, terlebih dahulu ritual dan do\u2019a bersama di masjid, dan musholla. Tujuannya, berharap berkah setelah melakukan puasa ramadhan, setelah saling memaafkan di hari Idul Fitri dan setelah selesai puasa Syawwal. Lain itu, adanya ritual dan do\u2019a berharap lancar dan selamat saat bekerja yang dimulai esuk harinya setelah \u201ckupatan\u201d. Selesai do\u2019a, masyarakat kudus rata-rata pergi berlibur, ada yang keluar daerah, rerata pergi ke pantai jepara, dan sebagian ada yang kedaerah pantai Pati, Juwana, Rembang bahkan ada yang ketempat liburan di Semarang. Ada juga, masyarakat yang memanfaatkan tempat hiburan yang telah disediakan di Kudus sendiri, seperti ke tempat \u201cBulusan di Kecamatan Jekulo, Sendang Jodo di Kecamatan Bae, kampung kupat di Kecamatan Dawe\u201d. Ketiga destinasi tersebut hanya ada saat \u201ckupatan\u201d saja. <\/p>\n\n\n\n


Di Pati, Rembang, Juwana beda dengan Kudus. Tiga daerah tersebut tradisi \u201ckupatan\u201d hampir mirip dengan Jepara, karena sama-sama daerah pesisir pantai, sedang Kudus bukan daerah pantai. Tidak tanggung-tanggung menjadi kebiasaan tahun lalu, masyarakat nelayan di tiga daerah tersebut, mendatangkan hiburan besar besaran, sampai-sampai berani mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah, untuk biaya hiburan dangdut. <\/p>\n\n\n\n


Tradisi liburan saat \u201ckupatan\u201d tidak disia-siakan oleh Masrukin, seorang pengusahan Emas asal Kaliputu Kudus. Ia bersama keluarga dan karyawan rencana akan berlibur pergi ke pantai Jepara. Rencana tersebut diutarakan saat ia mengunjungiku. Ia teman kecil di taman bacaan makam Sasro Kartono Kaliputu Kudus. Dahulu, semasa kecil kita sering baca komik yang disediakan pihak pengelola makam. Kita tidak bertemu hampir empat tahun. Setelah tahu keberadaanku, ia menyempatkan diri bersama anak dan istrinya berkunjung ketempatku. Kita ngobrol sampai larut malam sambil merokok kesukaannnya Djarum Super. <\/p>\n\n\n\n


Di penghujung obrolan, ia bercerita sambil mengajak liburan \u201ckupatan\u201d bersama karyawannya ke pantai kartini Jepara. Ia pun berkata kalau barang yang akan dibawa saat berlibur pun telah disiapkan, seperti membawa makanan ketupat, membawa opor ayam, membawa sayur lodeh gori, semur ikan kutuk dan semur tahu spesial buatan ibunya. Tidak kalah nikmatnya, ia juga telah menyiapkan rokok kretek Djarum Super dua press bersama bubuk kopi robusta asal lereng gunung muria. Ia menenteng rokok dan kopi sembari diangkat kearah wajahku, supaya aku melihatnya. <\/p>\n\n\n\n


Maksudnya, membujuk aku untuk ikut liburan bersama keluarga dan karyawannya. Sebetulnya, dalam hati kecil aku ingin ikut, namun apa daya, aku harus merawat guru juga kiai yang sudah aku anggap simbah sendiri. Semoga liburanmu dipantai Kartini Jepara dihari \u201ckupatan\u201d ini menyenangkan, apalagi ditemani rokok kretek dan kopi muria. <\/p>\n","post_title":"\u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kupatan-di-pantura-asyiknya-berlibur-berbekal-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-12 07:46:54","post_modified_gmt":"2019-06-12 00:46:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5779","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5777,"post_author":"883","post_date":"2019-06-11 07:50:25","post_date_gmt":"2019-06-11 00:50:25","post_content":"\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Perkembangannya, \u201ckupatan\u201d tidak lagi identik hari raya bagi orang yang berpuasa Syawal, semua masyarakat pantura ikut merayakan hari raya ketupat atau \u201ckupatan\u201d. Di hari kupatan, para ulama\u2019 sepakat memberikan hukum makruh jika mengumandangkan takbir (takbiran), seperti halnya takbir saat habis bulan Ramadhan, malam masuknya bulan Syawwal. Jadi, dimalam kupatan tidak ada takbir atau takbiran. \u201cKupatan\u201d ditandai dengan berdo\u2019a atau ritual bersama dilakukan dipagi hari, dilanjutkan pergi berlibur.
Semisal, Kabupaten Jepara, di hari ke delapan pagi betul (setelah shubuh), persiapan ritual dan do\u2019a bersama di tepi pantai, dilanjutkan melarung kepala kerbau ke tengah laut oleh kepala daerah, bersama masyarakat, terutama masyarakat nelayan, dengan menggunakan perahu-perahu kecil. Selesai melarung, sebagi tanda dimulainya waktu berlibur dan bertamasya. Menurut Malik, nelayan pantai Kartini Jepara, melarung sudah menjadi tradisi bagi masyrakat, terutama para nelayan, berdo\u2019a dan berharap supaya nanti ikannya banyak, memberikan rezeki bagi para nelayan. Nelayan akan mulai menangkap ikan setelah \u201ckupatan\u201d. Saat \u201ckupatan\u201d Kabupaten Jepara menyiapkan destinasi pantai menyuguhkan banyak hiburan yang bisa dinikmati masyarakat saat berlibur. Tidak hanya masyarakat lokal, luar kota pun banyak yang berdatangan. <\/p>\n\n\n\n


Di Kudus, sebelum pergi berlibur, terlebih dahulu ritual dan do\u2019a bersama di masjid, dan musholla. Tujuannya, berharap berkah setelah melakukan puasa ramadhan, setelah saling memaafkan di hari Idul Fitri dan setelah selesai puasa Syawwal. Lain itu, adanya ritual dan do\u2019a berharap lancar dan selamat saat bekerja yang dimulai esuk harinya setelah \u201ckupatan\u201d. Selesai do\u2019a, masyarakat kudus rata-rata pergi berlibur, ada yang keluar daerah, rerata pergi ke pantai jepara, dan sebagian ada yang kedaerah pantai Pati, Juwana, Rembang bahkan ada yang ketempat liburan di Semarang. Ada juga, masyarakat yang memanfaatkan tempat hiburan yang telah disediakan di Kudus sendiri, seperti ke tempat \u201cBulusan di Kecamatan Jekulo, Sendang Jodo di Kecamatan Bae, kampung kupat di Kecamatan Dawe\u201d. Ketiga destinasi tersebut hanya ada saat \u201ckupatan\u201d saja. <\/p>\n\n\n\n


Di Pati, Rembang, Juwana beda dengan Kudus. Tiga daerah tersebut tradisi \u201ckupatan\u201d hampir mirip dengan Jepara, karena sama-sama daerah pesisir pantai, sedang Kudus bukan daerah pantai. Tidak tanggung-tanggung menjadi kebiasaan tahun lalu, masyarakat nelayan di tiga daerah tersebut, mendatangkan hiburan besar besaran, sampai-sampai berani mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah, untuk biaya hiburan dangdut. <\/p>\n\n\n\n


Tradisi liburan saat \u201ckupatan\u201d tidak disia-siakan oleh Masrukin, seorang pengusahan Emas asal Kaliputu Kudus. Ia bersama keluarga dan karyawan rencana akan berlibur pergi ke pantai Jepara. Rencana tersebut diutarakan saat ia mengunjungiku. Ia teman kecil di taman bacaan makam Sasro Kartono Kaliputu Kudus. Dahulu, semasa kecil kita sering baca komik yang disediakan pihak pengelola makam. Kita tidak bertemu hampir empat tahun. Setelah tahu keberadaanku, ia menyempatkan diri bersama anak dan istrinya berkunjung ketempatku. Kita ngobrol sampai larut malam sambil merokok kesukaannnya Djarum Super. <\/p>\n\n\n\n


Di penghujung obrolan, ia bercerita sambil mengajak liburan \u201ckupatan\u201d bersama karyawannya ke pantai kartini Jepara. Ia pun berkata kalau barang yang akan dibawa saat berlibur pun telah disiapkan, seperti membawa makanan ketupat, membawa opor ayam, membawa sayur lodeh gori, semur ikan kutuk dan semur tahu spesial buatan ibunya. Tidak kalah nikmatnya, ia juga telah menyiapkan rokok kretek Djarum Super dua press bersama bubuk kopi robusta asal lereng gunung muria. Ia menenteng rokok dan kopi sembari diangkat kearah wajahku, supaya aku melihatnya. <\/p>\n\n\n\n


Maksudnya, membujuk aku untuk ikut liburan bersama keluarga dan karyawannya. Sebetulnya, dalam hati kecil aku ingin ikut, namun apa daya, aku harus merawat guru juga kiai yang sudah aku anggap simbah sendiri. Semoga liburanmu dipantai Kartini Jepara dihari \u201ckupatan\u201d ini menyenangkan, apalagi ditemani rokok kretek dan kopi muria. <\/p>\n","post_title":"\u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kupatan-di-pantura-asyiknya-berlibur-berbekal-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-12 07:46:54","post_modified_gmt":"2019-06-12 00:46:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5779","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5777,"post_author":"883","post_date":"2019-06-11 07:50:25","post_date_gmt":"2019-06-11 00:50:25","post_content":"\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Bagi orang pantura, di bulan Syawwal ada dua hari raya. Pertama hari raya lebaran atau hari raya Idul Fitri, hari kemenangan setelah berpuasa Ramadhan satu bulan penuh, selanjutnya saling memaafkan satu sama lain. Kedua, hari raya \u201ckupatan\u201d yaitu hari kemenangan setelah berpuasa enam hari dimulai hari kedua bulan Syawal. Setelah selesai puasa diakhiri makan ketupat bersama dan liburan.<\/p>\n\n\n\n


Perkembangannya, \u201ckupatan\u201d tidak lagi identik hari raya bagi orang yang berpuasa Syawal, semua masyarakat pantura ikut merayakan hari raya ketupat atau \u201ckupatan\u201d. Di hari kupatan, para ulama\u2019 sepakat memberikan hukum makruh jika mengumandangkan takbir (takbiran), seperti halnya takbir saat habis bulan Ramadhan, malam masuknya bulan Syawwal. Jadi, dimalam kupatan tidak ada takbir atau takbiran. \u201cKupatan\u201d ditandai dengan berdo\u2019a atau ritual bersama dilakukan dipagi hari, dilanjutkan pergi berlibur.
Semisal, Kabupaten Jepara, di hari ke delapan pagi betul (setelah shubuh), persiapan ritual dan do\u2019a bersama di tepi pantai, dilanjutkan melarung kepala kerbau ke tengah laut oleh kepala daerah, bersama masyarakat, terutama masyarakat nelayan, dengan menggunakan perahu-perahu kecil. Selesai melarung, sebagi tanda dimulainya waktu berlibur dan bertamasya. Menurut Malik, nelayan pantai Kartini Jepara, melarung sudah menjadi tradisi bagi masyrakat, terutama para nelayan, berdo\u2019a dan berharap supaya nanti ikannya banyak, memberikan rezeki bagi para nelayan. Nelayan akan mulai menangkap ikan setelah \u201ckupatan\u201d. Saat \u201ckupatan\u201d Kabupaten Jepara menyiapkan destinasi pantai menyuguhkan banyak hiburan yang bisa dinikmati masyarakat saat berlibur. Tidak hanya masyarakat lokal, luar kota pun banyak yang berdatangan. <\/p>\n\n\n\n


Di Kudus, sebelum pergi berlibur, terlebih dahulu ritual dan do\u2019a bersama di masjid, dan musholla. Tujuannya, berharap berkah setelah melakukan puasa ramadhan, setelah saling memaafkan di hari Idul Fitri dan setelah selesai puasa Syawwal. Lain itu, adanya ritual dan do\u2019a berharap lancar dan selamat saat bekerja yang dimulai esuk harinya setelah \u201ckupatan\u201d. Selesai do\u2019a, masyarakat kudus rata-rata pergi berlibur, ada yang keluar daerah, rerata pergi ke pantai jepara, dan sebagian ada yang kedaerah pantai Pati, Juwana, Rembang bahkan ada yang ketempat liburan di Semarang. Ada juga, masyarakat yang memanfaatkan tempat hiburan yang telah disediakan di Kudus sendiri, seperti ke tempat \u201cBulusan di Kecamatan Jekulo, Sendang Jodo di Kecamatan Bae, kampung kupat di Kecamatan Dawe\u201d. Ketiga destinasi tersebut hanya ada saat \u201ckupatan\u201d saja. <\/p>\n\n\n\n


Di Pati, Rembang, Juwana beda dengan Kudus. Tiga daerah tersebut tradisi \u201ckupatan\u201d hampir mirip dengan Jepara, karena sama-sama daerah pesisir pantai, sedang Kudus bukan daerah pantai. Tidak tanggung-tanggung menjadi kebiasaan tahun lalu, masyarakat nelayan di tiga daerah tersebut, mendatangkan hiburan besar besaran, sampai-sampai berani mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah, untuk biaya hiburan dangdut. <\/p>\n\n\n\n


Tradisi liburan saat \u201ckupatan\u201d tidak disia-siakan oleh Masrukin, seorang pengusahan Emas asal Kaliputu Kudus. Ia bersama keluarga dan karyawan rencana akan berlibur pergi ke pantai Jepara. Rencana tersebut diutarakan saat ia mengunjungiku. Ia teman kecil di taman bacaan makam Sasro Kartono Kaliputu Kudus. Dahulu, semasa kecil kita sering baca komik yang disediakan pihak pengelola makam. Kita tidak bertemu hampir empat tahun. Setelah tahu keberadaanku, ia menyempatkan diri bersama anak dan istrinya berkunjung ketempatku. Kita ngobrol sampai larut malam sambil merokok kesukaannnya Djarum Super. <\/p>\n\n\n\n


Di penghujung obrolan, ia bercerita sambil mengajak liburan \u201ckupatan\u201d bersama karyawannya ke pantai kartini Jepara. Ia pun berkata kalau barang yang akan dibawa saat berlibur pun telah disiapkan, seperti membawa makanan ketupat, membawa opor ayam, membawa sayur lodeh gori, semur ikan kutuk dan semur tahu spesial buatan ibunya. Tidak kalah nikmatnya, ia juga telah menyiapkan rokok kretek Djarum Super dua press bersama bubuk kopi robusta asal lereng gunung muria. Ia menenteng rokok dan kopi sembari diangkat kearah wajahku, supaya aku melihatnya. <\/p>\n\n\n\n


Maksudnya, membujuk aku untuk ikut liburan bersama keluarga dan karyawannya. Sebetulnya, dalam hati kecil aku ingin ikut, namun apa daya, aku harus merawat guru juga kiai yang sudah aku anggap simbah sendiri. Semoga liburanmu dipantai Kartini Jepara dihari \u201ckupatan\u201d ini menyenangkan, apalagi ditemani rokok kretek dan kopi muria. <\/p>\n","post_title":"\u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kupatan-di-pantura-asyiknya-berlibur-berbekal-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-12 07:46:54","post_modified_gmt":"2019-06-12 00:46:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5779","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5777,"post_author":"883","post_date":"2019-06-11 07:50:25","post_date_gmt":"2019-06-11 00:50:25","post_content":"\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Tradisi hari raya ketupat atau \u201ckupatan\u201d kental di daerah pesisir utara Jawa Tengah, seperti Kabupaten Jepara, Kudus, Pati, Juwana, Rembang dan daerah lain. Hari raya ketupat diawali dengan kenduren atau ritual dan do\u2019a bersama pagi hari sekitar jam 06.00-07.00 dengan membawa ketupat, lepet dan masakan pendukungnya seperti opor ayam, sayur gori dan ada juga masakan semur. Selesai berdo\u2019a, makan bersama, ada juga yang saling bertukar masakan. Selesai makan, pulang dan siap-siap pergi berlibur, ketempat-tempat yang tersedia hiburan.
Konon, ceritanya \u201ckupatan\u201d adalah hari raya bagi orang-orang yang telah berpuasa di hari kedua sampai hari ketujuh bulan Syawwal. Kalau hari pertama bulan syawwal para ulama\u2019 sepakat hukumnya haram (tidak boleh berpuasa), mulai hari kedua disunnahkan berpuasa. Nah, setelah berpuasa enam hari, mereka berbuka dengan menikmati ketupat dan pergi liburan. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang pantura, di bulan Syawwal ada dua hari raya. Pertama hari raya lebaran atau hari raya Idul Fitri, hari kemenangan setelah berpuasa Ramadhan satu bulan penuh, selanjutnya saling memaafkan satu sama lain. Kedua, hari raya \u201ckupatan\u201d yaitu hari kemenangan setelah berpuasa enam hari dimulai hari kedua bulan Syawal. Setelah selesai puasa diakhiri makan ketupat bersama dan liburan.<\/p>\n\n\n\n


Perkembangannya, \u201ckupatan\u201d tidak lagi identik hari raya bagi orang yang berpuasa Syawal, semua masyarakat pantura ikut merayakan hari raya ketupat atau \u201ckupatan\u201d. Di hari kupatan, para ulama\u2019 sepakat memberikan hukum makruh jika mengumandangkan takbir (takbiran), seperti halnya takbir saat habis bulan Ramadhan, malam masuknya bulan Syawwal. Jadi, dimalam kupatan tidak ada takbir atau takbiran. \u201cKupatan\u201d ditandai dengan berdo\u2019a atau ritual bersama dilakukan dipagi hari, dilanjutkan pergi berlibur.
Semisal, Kabupaten Jepara, di hari ke delapan pagi betul (setelah shubuh), persiapan ritual dan do\u2019a bersama di tepi pantai, dilanjutkan melarung kepala kerbau ke tengah laut oleh kepala daerah, bersama masyarakat, terutama masyarakat nelayan, dengan menggunakan perahu-perahu kecil. Selesai melarung, sebagi tanda dimulainya waktu berlibur dan bertamasya. Menurut Malik, nelayan pantai Kartini Jepara, melarung sudah menjadi tradisi bagi masyrakat, terutama para nelayan, berdo\u2019a dan berharap supaya nanti ikannya banyak, memberikan rezeki bagi para nelayan. Nelayan akan mulai menangkap ikan setelah \u201ckupatan\u201d. Saat \u201ckupatan\u201d Kabupaten Jepara menyiapkan destinasi pantai menyuguhkan banyak hiburan yang bisa dinikmati masyarakat saat berlibur. Tidak hanya masyarakat lokal, luar kota pun banyak yang berdatangan. <\/p>\n\n\n\n


Di Kudus, sebelum pergi berlibur, terlebih dahulu ritual dan do\u2019a bersama di masjid, dan musholla. Tujuannya, berharap berkah setelah melakukan puasa ramadhan, setelah saling memaafkan di hari Idul Fitri dan setelah selesai puasa Syawwal. Lain itu, adanya ritual dan do\u2019a berharap lancar dan selamat saat bekerja yang dimulai esuk harinya setelah \u201ckupatan\u201d. Selesai do\u2019a, masyarakat kudus rata-rata pergi berlibur, ada yang keluar daerah, rerata pergi ke pantai jepara, dan sebagian ada yang kedaerah pantai Pati, Juwana, Rembang bahkan ada yang ketempat liburan di Semarang. Ada juga, masyarakat yang memanfaatkan tempat hiburan yang telah disediakan di Kudus sendiri, seperti ke tempat \u201cBulusan di Kecamatan Jekulo, Sendang Jodo di Kecamatan Bae, kampung kupat di Kecamatan Dawe\u201d. Ketiga destinasi tersebut hanya ada saat \u201ckupatan\u201d saja. <\/p>\n\n\n\n


Di Pati, Rembang, Juwana beda dengan Kudus. Tiga daerah tersebut tradisi \u201ckupatan\u201d hampir mirip dengan Jepara, karena sama-sama daerah pesisir pantai, sedang Kudus bukan daerah pantai. Tidak tanggung-tanggung menjadi kebiasaan tahun lalu, masyarakat nelayan di tiga daerah tersebut, mendatangkan hiburan besar besaran, sampai-sampai berani mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah, untuk biaya hiburan dangdut. <\/p>\n\n\n\n


Tradisi liburan saat \u201ckupatan\u201d tidak disia-siakan oleh Masrukin, seorang pengusahan Emas asal Kaliputu Kudus. Ia bersama keluarga dan karyawan rencana akan berlibur pergi ke pantai Jepara. Rencana tersebut diutarakan saat ia mengunjungiku. Ia teman kecil di taman bacaan makam Sasro Kartono Kaliputu Kudus. Dahulu, semasa kecil kita sering baca komik yang disediakan pihak pengelola makam. Kita tidak bertemu hampir empat tahun. Setelah tahu keberadaanku, ia menyempatkan diri bersama anak dan istrinya berkunjung ketempatku. Kita ngobrol sampai larut malam sambil merokok kesukaannnya Djarum Super. <\/p>\n\n\n\n


Di penghujung obrolan, ia bercerita sambil mengajak liburan \u201ckupatan\u201d bersama karyawannya ke pantai kartini Jepara. Ia pun berkata kalau barang yang akan dibawa saat berlibur pun telah disiapkan, seperti membawa makanan ketupat, membawa opor ayam, membawa sayur lodeh gori, semur ikan kutuk dan semur tahu spesial buatan ibunya. Tidak kalah nikmatnya, ia juga telah menyiapkan rokok kretek Djarum Super dua press bersama bubuk kopi robusta asal lereng gunung muria. Ia menenteng rokok dan kopi sembari diangkat kearah wajahku, supaya aku melihatnya. <\/p>\n\n\n\n


Maksudnya, membujuk aku untuk ikut liburan bersama keluarga dan karyawannya. Sebetulnya, dalam hati kecil aku ingin ikut, namun apa daya, aku harus merawat guru juga kiai yang sudah aku anggap simbah sendiri. Semoga liburanmu dipantai Kartini Jepara dihari \u201ckupatan\u201d ini menyenangkan, apalagi ditemani rokok kretek dan kopi muria. <\/p>\n","post_title":"\u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kupatan-di-pantura-asyiknya-berlibur-berbekal-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-12 07:46:54","post_modified_gmt":"2019-06-12 00:46:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5779","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5777,"post_author":"883","post_date":"2019-06-11 07:50:25","post_date_gmt":"2019-06-11 00:50:25","post_content":"\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Dan mungkin hari raya ketupat beda dengan daerah lain. Semisal di Jakarta, saat hari raya Idul Fitri juga dinakan hari raya ketupat. Begitu gema takbir berkumandang, saat itu juga membuat ketupat untuk hidangan esuk hari bersama masakan opor ayam atau sejenisnya setelah sholad Ied. Bagi masyarakat pantura tidak, ketupat dibuat setelah tujuh hari terhitung dari 1 Syawwal. <\/p>\n\n\n\n


Tradisi hari raya ketupat atau \u201ckupatan\u201d kental di daerah pesisir utara Jawa Tengah, seperti Kabupaten Jepara, Kudus, Pati, Juwana, Rembang dan daerah lain. Hari raya ketupat diawali dengan kenduren atau ritual dan do\u2019a bersama pagi hari sekitar jam 06.00-07.00 dengan membawa ketupat, lepet dan masakan pendukungnya seperti opor ayam, sayur gori dan ada juga masakan semur. Selesai berdo\u2019a, makan bersama, ada juga yang saling bertukar masakan. Selesai makan, pulang dan siap-siap pergi berlibur, ketempat-tempat yang tersedia hiburan.
Konon, ceritanya \u201ckupatan\u201d adalah hari raya bagi orang-orang yang telah berpuasa di hari kedua sampai hari ketujuh bulan Syawwal. Kalau hari pertama bulan syawwal para ulama\u2019 sepakat hukumnya haram (tidak boleh berpuasa), mulai hari kedua disunnahkan berpuasa. Nah, setelah berpuasa enam hari, mereka berbuka dengan menikmati ketupat dan pergi liburan. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang pantura, di bulan Syawwal ada dua hari raya. Pertama hari raya lebaran atau hari raya Idul Fitri, hari kemenangan setelah berpuasa Ramadhan satu bulan penuh, selanjutnya saling memaafkan satu sama lain. Kedua, hari raya \u201ckupatan\u201d yaitu hari kemenangan setelah berpuasa enam hari dimulai hari kedua bulan Syawal. Setelah selesai puasa diakhiri makan ketupat bersama dan liburan.<\/p>\n\n\n\n


Perkembangannya, \u201ckupatan\u201d tidak lagi identik hari raya bagi orang yang berpuasa Syawal, semua masyarakat pantura ikut merayakan hari raya ketupat atau \u201ckupatan\u201d. Di hari kupatan, para ulama\u2019 sepakat memberikan hukum makruh jika mengumandangkan takbir (takbiran), seperti halnya takbir saat habis bulan Ramadhan, malam masuknya bulan Syawwal. Jadi, dimalam kupatan tidak ada takbir atau takbiran. \u201cKupatan\u201d ditandai dengan berdo\u2019a atau ritual bersama dilakukan dipagi hari, dilanjutkan pergi berlibur.
Semisal, Kabupaten Jepara, di hari ke delapan pagi betul (setelah shubuh), persiapan ritual dan do\u2019a bersama di tepi pantai, dilanjutkan melarung kepala kerbau ke tengah laut oleh kepala daerah, bersama masyarakat, terutama masyarakat nelayan, dengan menggunakan perahu-perahu kecil. Selesai melarung, sebagi tanda dimulainya waktu berlibur dan bertamasya. Menurut Malik, nelayan pantai Kartini Jepara, melarung sudah menjadi tradisi bagi masyrakat, terutama para nelayan, berdo\u2019a dan berharap supaya nanti ikannya banyak, memberikan rezeki bagi para nelayan. Nelayan akan mulai menangkap ikan setelah \u201ckupatan\u201d. Saat \u201ckupatan\u201d Kabupaten Jepara menyiapkan destinasi pantai menyuguhkan banyak hiburan yang bisa dinikmati masyarakat saat berlibur. Tidak hanya masyarakat lokal, luar kota pun banyak yang berdatangan. <\/p>\n\n\n\n


Di Kudus, sebelum pergi berlibur, terlebih dahulu ritual dan do\u2019a bersama di masjid, dan musholla. Tujuannya, berharap berkah setelah melakukan puasa ramadhan, setelah saling memaafkan di hari Idul Fitri dan setelah selesai puasa Syawwal. Lain itu, adanya ritual dan do\u2019a berharap lancar dan selamat saat bekerja yang dimulai esuk harinya setelah \u201ckupatan\u201d. Selesai do\u2019a, masyarakat kudus rata-rata pergi berlibur, ada yang keluar daerah, rerata pergi ke pantai jepara, dan sebagian ada yang kedaerah pantai Pati, Juwana, Rembang bahkan ada yang ketempat liburan di Semarang. Ada juga, masyarakat yang memanfaatkan tempat hiburan yang telah disediakan di Kudus sendiri, seperti ke tempat \u201cBulusan di Kecamatan Jekulo, Sendang Jodo di Kecamatan Bae, kampung kupat di Kecamatan Dawe\u201d. Ketiga destinasi tersebut hanya ada saat \u201ckupatan\u201d saja. <\/p>\n\n\n\n


Di Pati, Rembang, Juwana beda dengan Kudus. Tiga daerah tersebut tradisi \u201ckupatan\u201d hampir mirip dengan Jepara, karena sama-sama daerah pesisir pantai, sedang Kudus bukan daerah pantai. Tidak tanggung-tanggung menjadi kebiasaan tahun lalu, masyarakat nelayan di tiga daerah tersebut, mendatangkan hiburan besar besaran, sampai-sampai berani mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah, untuk biaya hiburan dangdut. <\/p>\n\n\n\n


Tradisi liburan saat \u201ckupatan\u201d tidak disia-siakan oleh Masrukin, seorang pengusahan Emas asal Kaliputu Kudus. Ia bersama keluarga dan karyawan rencana akan berlibur pergi ke pantai Jepara. Rencana tersebut diutarakan saat ia mengunjungiku. Ia teman kecil di taman bacaan makam Sasro Kartono Kaliputu Kudus. Dahulu, semasa kecil kita sering baca komik yang disediakan pihak pengelola makam. Kita tidak bertemu hampir empat tahun. Setelah tahu keberadaanku, ia menyempatkan diri bersama anak dan istrinya berkunjung ketempatku. Kita ngobrol sampai larut malam sambil merokok kesukaannnya Djarum Super. <\/p>\n\n\n\n


Di penghujung obrolan, ia bercerita sambil mengajak liburan \u201ckupatan\u201d bersama karyawannya ke pantai kartini Jepara. Ia pun berkata kalau barang yang akan dibawa saat berlibur pun telah disiapkan, seperti membawa makanan ketupat, membawa opor ayam, membawa sayur lodeh gori, semur ikan kutuk dan semur tahu spesial buatan ibunya. Tidak kalah nikmatnya, ia juga telah menyiapkan rokok kretek Djarum Super dua press bersama bubuk kopi robusta asal lereng gunung muria. Ia menenteng rokok dan kopi sembari diangkat kearah wajahku, supaya aku melihatnya. <\/p>\n\n\n\n


Maksudnya, membujuk aku untuk ikut liburan bersama keluarga dan karyawannya. Sebetulnya, dalam hati kecil aku ingin ikut, namun apa daya, aku harus merawat guru juga kiai yang sudah aku anggap simbah sendiri. Semoga liburanmu dipantai Kartini Jepara dihari \u201ckupatan\u201d ini menyenangkan, apalagi ditemani rokok kretek dan kopi muria. <\/p>\n","post_title":"\u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kupatan-di-pantura-asyiknya-berlibur-berbekal-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-12 07:46:54","post_modified_gmt":"2019-06-12 00:46:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5779","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5777,"post_author":"883","post_date":"2019-06-11 07:50:25","post_date_gmt":"2019-06-11 00:50:25","post_content":"\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Daerah pantura punya tradisi namanya \u201ckupatan\u201d atau hari raya ketupat. Apa bedanya dengan hari raya Idul Fitri? Jawabnya beda untuk daerah pantura. \u201cKupatan\u201d bagi masyarakat pantura jatuh pada hari ke delapan setelah hari raya Idul Fitri. Sedangkan, Idul Fitri dimulai sejak tanggal 1 Syawwal. <\/p>\n\n\n\n


Dan mungkin hari raya ketupat beda dengan daerah lain. Semisal di Jakarta, saat hari raya Idul Fitri juga dinakan hari raya ketupat. Begitu gema takbir berkumandang, saat itu juga membuat ketupat untuk hidangan esuk hari bersama masakan opor ayam atau sejenisnya setelah sholad Ied. Bagi masyarakat pantura tidak, ketupat dibuat setelah tujuh hari terhitung dari 1 Syawwal. <\/p>\n\n\n\n


Tradisi hari raya ketupat atau \u201ckupatan\u201d kental di daerah pesisir utara Jawa Tengah, seperti Kabupaten Jepara, Kudus, Pati, Juwana, Rembang dan daerah lain. Hari raya ketupat diawali dengan kenduren atau ritual dan do\u2019a bersama pagi hari sekitar jam 06.00-07.00 dengan membawa ketupat, lepet dan masakan pendukungnya seperti opor ayam, sayur gori dan ada juga masakan semur. Selesai berdo\u2019a, makan bersama, ada juga yang saling bertukar masakan. Selesai makan, pulang dan siap-siap pergi berlibur, ketempat-tempat yang tersedia hiburan.
Konon, ceritanya \u201ckupatan\u201d adalah hari raya bagi orang-orang yang telah berpuasa di hari kedua sampai hari ketujuh bulan Syawwal. Kalau hari pertama bulan syawwal para ulama\u2019 sepakat hukumnya haram (tidak boleh berpuasa), mulai hari kedua disunnahkan berpuasa. Nah, setelah berpuasa enam hari, mereka berbuka dengan menikmati ketupat dan pergi liburan. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang pantura, di bulan Syawwal ada dua hari raya. Pertama hari raya lebaran atau hari raya Idul Fitri, hari kemenangan setelah berpuasa Ramadhan satu bulan penuh, selanjutnya saling memaafkan satu sama lain. Kedua, hari raya \u201ckupatan\u201d yaitu hari kemenangan setelah berpuasa enam hari dimulai hari kedua bulan Syawal. Setelah selesai puasa diakhiri makan ketupat bersama dan liburan.<\/p>\n\n\n\n


Perkembangannya, \u201ckupatan\u201d tidak lagi identik hari raya bagi orang yang berpuasa Syawal, semua masyarakat pantura ikut merayakan hari raya ketupat atau \u201ckupatan\u201d. Di hari kupatan, para ulama\u2019 sepakat memberikan hukum makruh jika mengumandangkan takbir (takbiran), seperti halnya takbir saat habis bulan Ramadhan, malam masuknya bulan Syawwal. Jadi, dimalam kupatan tidak ada takbir atau takbiran. \u201cKupatan\u201d ditandai dengan berdo\u2019a atau ritual bersama dilakukan dipagi hari, dilanjutkan pergi berlibur.
Semisal, Kabupaten Jepara, di hari ke delapan pagi betul (setelah shubuh), persiapan ritual dan do\u2019a bersama di tepi pantai, dilanjutkan melarung kepala kerbau ke tengah laut oleh kepala daerah, bersama masyarakat, terutama masyarakat nelayan, dengan menggunakan perahu-perahu kecil. Selesai melarung, sebagi tanda dimulainya waktu berlibur dan bertamasya. Menurut Malik, nelayan pantai Kartini Jepara, melarung sudah menjadi tradisi bagi masyrakat, terutama para nelayan, berdo\u2019a dan berharap supaya nanti ikannya banyak, memberikan rezeki bagi para nelayan. Nelayan akan mulai menangkap ikan setelah \u201ckupatan\u201d. Saat \u201ckupatan\u201d Kabupaten Jepara menyiapkan destinasi pantai menyuguhkan banyak hiburan yang bisa dinikmati masyarakat saat berlibur. Tidak hanya masyarakat lokal, luar kota pun banyak yang berdatangan. <\/p>\n\n\n\n


Di Kudus, sebelum pergi berlibur, terlebih dahulu ritual dan do\u2019a bersama di masjid, dan musholla. Tujuannya, berharap berkah setelah melakukan puasa ramadhan, setelah saling memaafkan di hari Idul Fitri dan setelah selesai puasa Syawwal. Lain itu, adanya ritual dan do\u2019a berharap lancar dan selamat saat bekerja yang dimulai esuk harinya setelah \u201ckupatan\u201d. Selesai do\u2019a, masyarakat kudus rata-rata pergi berlibur, ada yang keluar daerah, rerata pergi ke pantai jepara, dan sebagian ada yang kedaerah pantai Pati, Juwana, Rembang bahkan ada yang ketempat liburan di Semarang. Ada juga, masyarakat yang memanfaatkan tempat hiburan yang telah disediakan di Kudus sendiri, seperti ke tempat \u201cBulusan di Kecamatan Jekulo, Sendang Jodo di Kecamatan Bae, kampung kupat di Kecamatan Dawe\u201d. Ketiga destinasi tersebut hanya ada saat \u201ckupatan\u201d saja. <\/p>\n\n\n\n


Di Pati, Rembang, Juwana beda dengan Kudus. Tiga daerah tersebut tradisi \u201ckupatan\u201d hampir mirip dengan Jepara, karena sama-sama daerah pesisir pantai, sedang Kudus bukan daerah pantai. Tidak tanggung-tanggung menjadi kebiasaan tahun lalu, masyarakat nelayan di tiga daerah tersebut, mendatangkan hiburan besar besaran, sampai-sampai berani mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta rupiah, untuk biaya hiburan dangdut. <\/p>\n\n\n\n


Tradisi liburan saat \u201ckupatan\u201d tidak disia-siakan oleh Masrukin, seorang pengusahan Emas asal Kaliputu Kudus. Ia bersama keluarga dan karyawan rencana akan berlibur pergi ke pantai Jepara. Rencana tersebut diutarakan saat ia mengunjungiku. Ia teman kecil di taman bacaan makam Sasro Kartono Kaliputu Kudus. Dahulu, semasa kecil kita sering baca komik yang disediakan pihak pengelola makam. Kita tidak bertemu hampir empat tahun. Setelah tahu keberadaanku, ia menyempatkan diri bersama anak dan istrinya berkunjung ketempatku. Kita ngobrol sampai larut malam sambil merokok kesukaannnya Djarum Super. <\/p>\n\n\n\n


Di penghujung obrolan, ia bercerita sambil mengajak liburan \u201ckupatan\u201d bersama karyawannya ke pantai kartini Jepara. Ia pun berkata kalau barang yang akan dibawa saat berlibur pun telah disiapkan, seperti membawa makanan ketupat, membawa opor ayam, membawa sayur lodeh gori, semur ikan kutuk dan semur tahu spesial buatan ibunya. Tidak kalah nikmatnya, ia juga telah menyiapkan rokok kretek Djarum Super dua press bersama bubuk kopi robusta asal lereng gunung muria. Ia menenteng rokok dan kopi sembari diangkat kearah wajahku, supaya aku melihatnya. <\/p>\n\n\n\n


Maksudnya, membujuk aku untuk ikut liburan bersama keluarga dan karyawannya. Sebetulnya, dalam hati kecil aku ingin ikut, namun apa daya, aku harus merawat guru juga kiai yang sudah aku anggap simbah sendiri. Semoga liburanmu dipantai Kartini Jepara dihari \u201ckupatan\u201d ini menyenangkan, apalagi ditemani rokok kretek dan kopi muria. <\/p>\n","post_title":"\u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kupatan-di-pantura-asyiknya-berlibur-berbekal-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-12 07:46:54","post_modified_gmt":"2019-06-12 00:46:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5779","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5777,"post_author":"883","post_date":"2019-06-11 07:50:25","post_date_gmt":"2019-06-11 00:50:25","post_content":"\n

Kretek merupakan produk pengetahuan yang lahir dari interaksi orang- perorang dalam dunia sosialnya. Pengetahuan ini, meski terus mengalami inovasi hingga tingkat kerumitan (dan metode saintifik) tertentu, tapi cara lama proses peracikan lewat teknologi paling mula dan paling mutakhir masih dapat ditemukan praktiknya sampai sekarang. <\/p>\n\n\n\n


Padahal, cara paling awal itu telah berusia lebih dari seratus tahun. Jika mengikuti pandangan sejumlah ahli, Haji Djamhari adalah orang kali pertama mempopulerkan \u2018sigaret cengkeh\u2019 (clove cigarette) pada kisaran 1870-an\u2014kemudian dinamakan kretek (Kim Ni, 1961. Castles, 1967. Harahap, 1952).

Merujuk pada dokumen arkaik, catatan tentang kebiasaan masyarakat Nusantara mencampur cengkeh dan tembakau di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-17 (van Hall & van de Koppel, 1946-1950).

Jadi, dalam konteks konsepsi sistem pengetahuan, Haji Djamhari lebih dikenal sebagai inventor (Hanusz, 2000). <\/p>\n\n\n\n


Memang, meracik atau tradisi meracik merupakan kebiasaan khas masyarakat di negeri-negeri di Nusantara (Reid, 1985). Pengetahuan meracik itu sangat kaya dan bervariasi, khususnya pada makanan dan herbal untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan tubuh.

Haji Djamhari tentulah salah satu dari sekian banyak bumiputera, khususnya di Jawa pada masa itu, yang mengetahui bagaimana meracik tembakau dan rempah-rempah dengan citarasa tertentu. <\/p>\n\n\n\n


Pengetahuan meracik adalah pengetahuan umum penduduk di Nusantara <\/h2>\n\n\n\n


dari konsekuensi lingkungannya yang kaya bahan baku herbal (Hanusz, 2000). Pengetahuan itu ditransmisikan dari generasi ke generasi, bahkan antar dan lintas generasi, hingga mengalami inovasi pada periode tertentu. Ia terus berevolusi hingga sedemikian populernya sebagaimana terjadi pada kretek. <\/p>\n\n\n\n


Yang menjadikan kretek sebagai pengetahuan simbolik Indonesia lantaran dan terutama sekali kreasi-cipta kretek memang lahir dan berkembang bahkan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan bahan baku racikannya bersumber dari bumi Nusantara.
Kretek, sebagaimana telah jadi konsepsi pengetahuan bersama, terdiri dari rajangan bunga cengkeh kering, rajangan tembakau kering, dan perisa (saus)\u2014yang dibungkus melalui kecakapan tertentu.

Keterampilan itu dapat diakses bersama secara luas, terutama di lingkungan-lingkungan sekitar pengolahan kretek, baik rumahan maupun pabrikan. Ini semata telah dijelaskan oleh para sejarawan, akademisi dan peneliti tentang sejarah kretek di Kudus pada awal abad 20.

Himpunan pengetahuan soal kretek\u2014dari tradisi meracik hingga instrumen keterampilan mengolah sangat sederhana yang dikerjakan pengrajin tangan rumahan sampai bersulih-rupa lewat teknologi pabrikan untuk produksi massal\u2014dapat kita temukan dalam Museum Kretek di Kudus, satu kabupaten yang memiliki akar dan konsepsi Islam kultural yang kuat di Jawa Tengah.

*Tulisan diambil dari: \u201cNASKAH PENDAFTARAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (KRETEK ADALAH PUSAKA BUDAYA INDONESIA)\u201d<\/em><\/p>\n","post_title":"Kretek sebagai Kebudayaan Indonesia*","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-kebudayaan-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-11 07:50:32","post_modified_gmt":"2019-06-11 00:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5777","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5775,"post_author":"877","post_date":"2019-06-10 10:36:24","post_date_gmt":"2019-06-10 03:36:24","post_content":"\n

Tidak terasa lebaran sudah masuk hari keenam, lebaran hampir selesai karena tiap berangsur-angsur memulai aktifitasnya seperti sedia kala. Sebelumnya dimulai hari akhir bulan ramadhan sampai masuk hari raya, aktifitas bekerja seseorang berhenti total. Yang terlihat orang-orang merayakan hari raya lebaran dengan saling berkunjung ke sanak family, halal bi halal bani (keturunan), kerumah teman, dan tidak ketinggalan reuni sekolah. Praktis kegiatan dilakukan dalam durasi maksimal tujuh hari terhitung mulai masuk hari raya. Selebihnya orang-orang banyak yang harus masuk kerja kembali, atau beraktifitas lagi.

Hari pertama sampai hari ketiga lebaran biasanya berkunjung ke saudara-saudara dekat sama berkunjung ke tetangga, hari selanjutnya berkunjung ke teman dan agenda halal bi halal dan reuni. Ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Indonesia. Dan mungkin satu-satunya tradisi di Negara-negara dunia. <\/p>\n\n\n\n


Lebaran istilah lain dari hari raya idul fitri, ada lagi yang mengucapkan hari halal bi halal, ada lagi yang menamakan riyoyo (bagi orang Jawa) dimanfaatkan dengan baik untuk saling mengikhlaskan satu sama lain atas keselahan-kesalahan dulu baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja. Tiap ketemu di rumah, di jalan bahkan dimanapun tempat, berjabat tangan, saling merendahkan diri dan berebut mengakui kesalahan kemudian meminta maaf. <\/p>\n\n\n\n


Di hari lebaran ini, seakan-akan sifat sombong manusia terbelenggu, yang ada hanya merendahkan diri, saling mengasihi, dan saling memberi. Ada yang berupa parsel ada yang berupa uang, atau ada yang berupa oleh-oleh seadanya sesui kemampuan. Demi merayakan hari lebaran, orang-orang yang merantau bekerja di kota lain rela mengeluarkan uang banyak untuk pulang kekampungnya atau pulang kerumah asalnya. Sampai sampai rela antri tiket jauh-jauh hari sebelum ramadhan, rela kena macet di jalan raya demi untuk pulang kampung (mudik). Tujuan utamanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetangga dan teman untuk bersilaturrohim (bertemu) dan meminta maaf.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran ini tidak ditemukan di Negara-negara lain, kalaupun ada orang muslim Indonesia yang merayakan di sana. Tidak hanya itu, jagad media sosialpun diramaikan ucapan-ucapan selamat dan permintaan maaf, tidak terkecuali Whatshap (WA). Dimulai hari akhir bulan puasa sudah saling balas kiriman ucapan selamat dan meminta maaf ke saudara atau teman yang sekira di hari raya lebaran tidak mungkin ketemu. Sungguh satu tradisi yang sangat mulia yang senantiasa harus dilestarikan, sebagai budaya asli Nusantara. <\/p>\n\n\n\n


Bagi orang Indonesia, lebaran dimaksud sebagai hari melebur kesalahan dengan meminta maaf, menebar maaf dengan ikhlas, dan masuk ke alam kesucian (fitroh), diibaratkan bayi yang baru lahir. Suci bermakna bersih, bersih dari dosa yang hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) setelah melewati bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam diwajibkan berpuasa, dan semua amalan baik dibulan ini mendapatkan pahala berlimpah. Kemudian di hari idul fitri (lebaran), dimanfaatkan saling menghalalkan atau memaafkan satu sama lain sebagai bentuk hubungan manusia yang sering ada kesalahan saat bergaul, bermasyarakat, sebagai relasi sosial.
Sekali lagi, lebaran sungguh tradisi yang mulia yang harus dilestarikan untuk menciptakan kondisi dinamis, menciptakan stabilitas, menciptakan kerukunan antar umat dan antar agama, menciptakan persatuan dan menciptakan kerukunan. Jika terjadi perseteruan di hari lebaran ini, satu tindakan yang menciderai giroh dan filosofi lebaran. Lebaran menjadi salah satu budaya dan tradisi asli Nusantara.<\/p>\n\n\n\n


Tradisi lebaran tidaklah muncul dengan sendirinya, ia diciptakan oleh para ulama\u2019 terdahulu dengan dasar yang kuat, dan kontekstual. Walaupun di Negara asal Islam (Arab) tradisi saling mengunjungi saling bersalaman dan memaafkan di hari raya idul fitri tidak terlihat. Yang terlihat mereka pergi ketempat rekreasi dan kuliner bersama keluarga.
Lebaran di Indonesia identik dengan simbul ketupat, yaitu berbentuk persegi empat terbuat dari daun kelapa dianyam atau dirajut tengahnya kosong yang kemudian diisi beras dan dimasak seperti menanak nasi. Setelah matang, ketupat di antar ke saudara dan tetangga, yang konon ketupat sebagai simbul ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (prilaku empat).<\/p>\n\n\n\n


Ngaku lepat, dilakukan dengan bersungkem ke orang yang lebih tua, atau berjabat tangan dengan permohonan maaf. Laku papat yaitu lebaran artinya selesai bulan puasa, pintu maaf terbuka lebar, luberan artinya melimpah atau membeikan sedekah dan saling memberi, leburan artinya saling memaafkan, dan laburan artinya kembali bersih dari dosa dan kesalahan. <\/p>\n\n\n\n


Ada dibeberapa daerah, makanan ketupat disampingnya terdapat makan lepet, yaitu bungkusnya sama dari daun kelapa tetapi yang digunakan daun muda (janur) dan didalamnya diisi beras ketan dengan bumbu kelapa yang di haluskan (diparut). Lepet sebagai simbul tambahan, banyak yang menafsiri setelah mengaku salah, dan berprilaku emapat di atas, kemudian merajut persatuan dan kesatuan bagaikan nasi ketan yang sangat lengket. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya lagi, saat lebaran di ruang tamu tiap rumah tersaji bermacam-macam kue dan tidak jarang di siapkan rokok. Seperti halnya salah satu tradisi di kampung Kayuapu Desa Gondangmanis Kudus, selain macam-macam kue juga tersaji rokok, ada yang disjikan batangan yang ditaruh dalam gelas ada juga yang disajikan masih dalam bungkus. Rumah yang menyajikan rokok pasti ramai sampai larut malam, selain saling memaafkan, bersilaturrokhim mereka tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk ngobrol saling bercerita dan berbagi pengalaman saat diperantauan. Sungguh suasana menggembirakan yang tidak bisa dilakukan dihari hari biasa selain lebaran, tutur Moh. Rifa\u2019i yang bekerja di Bekasi saat lebaran pulang kampung. <\/p>\n\n\n\n


Indonesia saat lebaran punya tradisi tersediri, pulang kampung\/mudik menjadi agenda rutin, berkunjunng kesaudara, tetangga dan teman untuk saling memaafkan kesalahan menjadi agenda utama, ngobrol saling cerita pengalaman bahkan tidak jarang mengingat masa lalu dan masa kecil sambil ngopi dan merokok bersama menjadi budaya dan tradisi tersendiri. <\/p>\n\n\n\n


Sekali lagi segenap keluarga besar KNPK menghantarkan kesalahan yang selama ini dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada seluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya bagi pembaca dan kepada seluruh stokeholder pertembakauan, dimohon ikhlasnya untuk dihalalkan atau dimaafkan, jazakumullah khoiro al jaza\u2019. <\/p>\n","post_title":"Budaya Lebaran dan Rokok di Hari Raya Idul Fitri Bagi Masyarakat Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-lebaran-dan-rokok-di-hari-raya-idul-fitri-bagi-masyarakat-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-10 10:37:34","post_modified_gmt":"2019-06-10 03:37:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5775","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":28},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};