\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n

Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n

Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n

Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n

Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n

Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n

Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n

Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n

Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n

Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n

Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n

Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n

Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n

Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n

Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n

Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n

Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n

Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n

Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kapan istilah tingwe (linting dewe) dikenal oleh perokok di negeri ini? Tak ada yang tahu pasti. Akan tetapi, aktivitas melinting rajangan tembakau menggunakan kertas atau klobot atau daun nipah, dengan campuran beberapa bahan lain semisal cengkeh untuk kemudian dinikmati dengan cara dibakar lantas diisap, saya kira sudah ada sejak tembakau dikenal dan dikonsumsi dengan cara dibakar dan diisap.

\nDahulu mungkin belum ada istilah tingwe, namun cara konsumsi tembakau dengan melinting sendiri tembakau milik kita, sudah berumur tua.

\nAktivitas merokok dengan cara tingwe yang turun temurun dilakukan masyarakat nusantara yang mengonsumsi tembakau, perlahan digantikan oleh produk rokok pabrikan yang lebih praktis. Mereka yang hendak merokok tak perlu lagi repot-repot melinting sendiri tembakau mereka menjadi rokok untuk kemudian dibakar dan diisap. Mereka tinggal mengambil sebatang rokok dari dalam kotak, membakar rokok itu, lantas diisap. Cukup praktis dan tidak membuang terlalu banyak waktu.

\nMulanya rokok-rokok siap isap tanpa perlu melinting sendiri produksi pabrikan tersebut didatangkan dari negeri-negeri jauh di luar nusantara. Penjajah yang membawa produk itu. Mereka mengenalkan rokok siap isap itu pada mulanya untuk menggantikan konsumsi tembakau dengan cara dikunyah bersama sirih dan kapur.

\nMenurut penjajah, kebiasaan mengunyah sirih dan pinang dan tembakau meninggalkan kotoran menjijikkan kerena aktivitas mengunyah sirih dan pinang dan tembakau itu meninggalkan jejak air liur berwarna kemerahan yang diludahkan di sembarang tempat.

\nLambat laun, pabrik-pabrik rokok lokal mulai bermunculan di banyak tempat. Distribusi tembakau tak lagi sekadar tembakau rajangan. Para penikmat tembakau memiliki alternatif lain untuk menikmati tembakau. Jika sebelumnya mesti melinting sendiri tembakau miliknya sebelum dirokok, setelah keberadaan pabrik-pabrik rokok lokal di beberapa tempat di negeri ini, mereka tak perlu lagi repot meluangkan waktu beberapa saat sebelum menikmati rokoknya. Tinggal ambil dalam kotak rokok, bakar, lantas isap. Sepraktis itu.

\nDari yang mulanya sekadar industri rumah tangga, industri kecil yang dikerjakan di halaman rumah pemilik usaha, rokok produk dalam negeri pada akhirnya menguasai pasar nasional. Ini terjadi usai ramuan produk rokok kretek yang terdiri dari campuran tembakau dan cengkeh ditemukan secara kebetulan oleh Haji Djamhari pada akhir abad 19 di Kudus.

\nSejak saat itu, hingga hari ini, perlahan-lahan rokom kretek merangkak naik produksi dan penjualannya. Hingga pada akhirnya, pada periode 70an, produk rokok kretek mulai merebut pasar rokok nasional yang sebelumnya dikuasai rokok putihan. Puncaknya, hari ini rokok kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok nusantara.

\nKejayaan rokok kretek benar-benar dimanfaatkan oleh negara untuk ikut ambil keuntungan dari bisnis ini. Cukai diterapkan terhadap produk rokok, termasuk rokok kretek. Setiap tahun, tanpa usaha berarti, negara bisa mendapat banyak pemasukan dari cukai rokok ini. Dan setiap tahun pula, negara menaikkan angka cukai rokok dengan bermacam skema yang membingungkan.

\nMeski begitu, produk rokok tetap laris di pasar nasional. Rokok kretek memiliki penggemar setianya dengan cakupan yang merata dan luas, dengan varian produk yang beragam menyesuaikan selera pasar.

\nHingga pada akhirnya, di tahun ini, cukai rokok kembali dinaikkan. Kali ini di luar kebiasaan, persentase kenaikan cukai mencapai 23 persen. Sebelumnya, tak belum pernah ada kejadian semacam ini. Biasanya cukai naik tiap tahunnya di bawah 10 persen. Salah satu alasan yang dipakai negara menaikkan cukai rokok di angka yang tidak masuk akal, agar harga rokok mahal sehingga konsumen rokok berkurang.

\nImbasnya, rata-rata harga jual rokok di pasaran naik hingga 35 persen dari harga sebelumnya. Harga-harga rokok melonjak naik. Dengan kenaikkan yang sangat signifikan.

\nTetapi, apakah benar dengan kenaikan cukai itu konsumen rokok berkurang? Saya kira tidak. Sudah sejak lama para perokok di negeri ini cukup cerdik bersiasat. Menyiasati kenaikan cukai kali ini, bentuk perlawanan para perokok lewat kembali ke gerakan rokok tingwe mulai gencar dilakukan.

\nPara perokok meninggalkan produk rokok pabrikan yang cukainya semakin tidak masuk akal itu, mereka beralih mengonsumsi rokok tingwe sebagai bentuk perlawanan kenaikan cukai. Merokok tetap jalan terus tanpa perlu pusing memikirkan harga rokok yang naik drastis.

\nSaya pikir, gerakan kembali ke rokok tingwe ini adalah juga sebuah bentuk diplomasi yang dilakukan oleh para perokok. Para perokok pada akhirnya memiliki nilai tawar tinggi setelah sebelumnya selalu digencet negara lewat cukai hingga tak berdaya, tak punya nilai tawar sama sekali.

\nDengan merokok tingwe, para perokok hendak mengatakan, silakan naikkan cukai setinggi-tingginya, kami bisa tetap merokok tingwe dengan gembira. Efeknya, negara yang akan merasakan kerugian sendiri dari kesewenang-wenangan aparatur kalian. Pemasukan negara lewat cukai akan menurun drastis karena kami para perokok lebih memilih rokok tingwe yang harganya terjangkau, sekaligus bisa menguntungkan petani tembakau tanpa potongan cukai yang tak masuk akal.<\/p>\n","post_title":"Diplomasi Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diplomasi-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-09 09:13:54","post_modified_gmt":"2020-01-09 02:13:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6364","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6356,"post_author":"877","post_date":"2020-01-06 08:24:53","post_date_gmt":"2020-01-06 01:24:53","post_content":"\n

Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah \u201cngelinting dewe\/membuat rokok sendiri\u201d disingkat \u201ctingwe\u201d. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n

Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.\u00a0 Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!<\/a><\/p>\n\n\n\n

Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst\u2026. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. <\/p>\n\n\n\n

Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. <\/p>\n\n\n\n

Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. <\/p>\n\n\n\n

Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. <\/p>\n\n\n\n

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. <\/p>\n\n\n\n

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata \u201cdasar rakyat miskin bisanya merokok klobot\u201d. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal \u2013 awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    <\/p>\n\n\n\n

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.
<\/p>\n","post_title":"Tingwe Adalah Solusi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tingwe-adalah-solusi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-06 08:24:57","post_modified_gmt":"2020-01-06 01:24:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6356","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6354,"post_author":"919","post_date":"2020-01-05 11:05:23","post_date_gmt":"2020-01-05 04:05:23","post_content":"\n

Ucok Homicide pernah berkata dalam sebuah tayangan di youtube bahwa budaya tanding tetap musti ada untuk melawan hegemoni kekuasaan. Budaya tanding itu bisa dalam berbagai cara, misalnya jika ekonomi kapitalistik berkuasa maka pasar pasar rakyat harus tetap hadir untuk memberi alternatif bagi masyarakat. Jika ditarik dalam kasus rokok hari ini, kesewenang-wenangan pemerintah menaikan tarif cukai harus dilawan dengan budaya tanding yaitu melinting sendiri atau yang lebih familiar disebut tingwe.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Jika saya tidak berlebihan, mungkin sudah sejak lama pemerintah ada hanya bermain drama untuk menolong warganya. Dalam kasus rokok ini misalnya, glorifikasi berulangkali dilakukan ketika waktu panen hasil tarif cukai tiba. Nyatanya, berbagai regulasi dibuat dan terus dibuat bahkan mendiskriminasi para perokok itu sendiri. Kita juga nyaris tak mendapatkan alasan dan jawaban teoritis yang pasti mengapa pemerintah selalu menaikkan tarif cukai tiap tahunnya. <\/p>\n\n\n\n

Kekesalan para perokok ini makin kian membuncah di akhir-akhir 2019 lalu. Saat itu dengan arogannya kementerian keuangan menaikan tarif cukai sebesar 35%. Angka yang sangat signifikan dan sangat memberakan konsumen, produsen, bahkan petani! Parahnya kenaikan ini juga dibarengi dengan mandeknya laju ekonomi di skala nasional, mungkin juga regional ASEAN. Pilihan yang diambil pemerintah ini mungkin fatal karena ekonomi sedang tidak baik seharusnya mereka menjaga tingkat daya beli di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n

Kalau sudah begini maka Tingwe jadi salah satu alternatif yang nyata. Bodo amat sama pemerintah yang tiap tahunnya selalu mendiskriminasi kita. Nyatanya, sebagai masyarakat toh kita juga punya berhak untuk melawan kesewenang-wenangan mereka. Mari kita linting sendiri tembakau dan papir kita, menikmati itu bersama-sama, sembari bergumam dalam hati dengan mengatakan Bodo Amat kepada pemerintah!<\/p>\n\n\n\n

Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n

Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n

Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan!
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6347,"post_author":"878","post_date":"2020-01-03 10:06:52","post_date_gmt":"2020-01-03 03:06:52","post_content":"\n

Sejak 1 Januari 2020, cukai rokok resmi naik. Efek langsung dari kenaikan cukai, harga rokok di seluruh Indonesia juga resmi naik. Karena kenaikan angka cukai cukup signifikan, mencapai 21 persen dari cukai sebelumnya, kenaikan harga rokok mencapai 35 persen. <\/p>\n\n\n\n

Untuk menghindari efek kejut yang terlalu besar dari kenaikan ini, pihak produsen menaikkan harga rokok tidak secara langsung sebanyak 35 persen dari harga sebelumnya, ia naik bertahap. Kenaikan bertahap ini sudah berlangsung sejak bulan Desember tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n

Sebagian perokok tetap bertahan dengan rokok favoritnya meskipun harga melonjak drastis, sebagian lain mencari alternatif, berpindah ke produk rokok yang harganya jauh lebih murah. Sisanya, beralih ke tembakau rajangan dan merokok tingwe, linting dewe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Badan Pusat Statistik Mendorong Komplain Terhadap Naiknya Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dahulu, rokok tingwe dianggap kolot, mereka yang sudah berusia tua saja yang mengisap rokok tingwe. Rokok tingwe dianggap ketinggalan zaman dan selera orang tua serta orang dusun. Namun kini, berkat kecanggihan tingwe, dan arus perlawanan terhadap kenaikan cukai yang tidak masuk akal, tingwe perlahan naik pamor dan disukai perokok dari tiap kalangan usia.<\/p>\n\n\n\n

Ada banyak cara menikmati rokok tingwe. Mulai dari sekadar melinting tembakau rajangan biasa sesuai selera yang banyak dijual di pasaran, ada pula yang menambahkan cengkeh kering dalam lintingan agar citarasa kretek tetap bertahan di dalamnya. Sebagian kecil mencoba merokok tingwe dengan campuran beberapa zat lain agar rasa rokok sesuai dengan keinginan perokok tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Tembakau-tembakau rajangan yang dijual bebas sebagai bahan utama rokok tingwe, tentu saja memiliki rasa beragam sesuai dengan jenis tembakau dan lokasi tembakau tersebut ditanam. Ada tembakau rajangan yang rasanya cukup keras, ada pula tembakau rajangan yang rasanya lembut. Semuanya memiliki penggemar masing-masing. Tetapi, bagaimana jika tembakau rajangan tersebut, baik yang keras maupun yang lembut, karena pengaruh cuaca dan penyimpanan yang kurang baik rasanya menjadi tak karuan? <\/p>\n\n\n\n

Temuan rekan saya secara tak sengaja ini mungkin bisa diterapkan oleh anda semua untuk memperbaiki rasa tembakau rajangan milik anda.<\/h2>\n\n\n\n

Pada pertengahan tahun 2018, gempa melanda Pulau Lombok dan sekitarnya, korban jiwa berjatuhan, rumah-rumah hancur berantakan, pengungsi membludak, dan salah satu efeknya, banyak komoditas pertanian yang terbengkalai tak terurus, tembakau hasil panen petani di salah satu wilayah di Lombok Barat salah satunya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Respon Negatif Pemerintah Terhadap Isu Kenaikan Harga Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah seorang rekan saya asal Jember, yang menjadi sukarelawan tanggap bencana di Lombok Barat, menemukan fenomena ini. Tembakau yang sudah dipanen dan dirajang, terbengkalai di rumah-rumah warga tak terurus. Ketika rekan saya menanyakan akan diapakan tembakau-tembakau milik warga itu, mereka menjawab bahwa tembakau itu akan dibuang saja karena rasanya sudah tidak karuan karena tak terurus.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena ini, rekan saya itu menganggap sayang sekali jika tembakau-tembakau yang banyak jumlahnya itu dibuang begitu saja. Di sela-sela kesibukan membantu pengungsi di posko pengungsian, rekan saya tersebut mencoba bereksperimen dengan tembakau-tembakau milik warga korban bencana yang tak terurus itu. Ia mengambil sampel tembakau milik warga, lantas mencampurnya dengan bermacam bahan lain untuk menyelamatkan rasa tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Kegagalan demi kegagalan ia alami dalam eksperimen yang ia lakukan. Hingga akhirnya, percobaan dengan menggunakan madu, berhasil menyelamatkan tembakau dan terverifikasi oleh banyak warga di dusun tempat ia bereksperimen.<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini, mencampur madu--yang ia dapat dari warga yang sebelum gempa memanen madu di hutan--dengan air secukupnya. Madu itu kemudian ia semprotkan secara merata ke tembakau rajangan. Setelah disemprotkan madu, tembakau-tembakau itu kemudian kembali dijemur hingga dirasa cukup kering dan bisa dilinting untuk diisap sebagai rokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Memahami Logika Isu Harga Rokok di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekan saya ini lantas mencoba tembakau yang sudah disemprotkan dengan madu itu. Dari yang rasanya sebelumnya berantakan, menurutnya rasa tembakau yang disemprot madu kembali terasa nikmat. Ia lantas meminta beberapa warga di dusun untuk mencicip tembakau miliknya yang sudah disemprot madu, tembakau yang sesungguhnya adalah milik warga itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n

\"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n

\"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n

\"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n

Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n

Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n

Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n

Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n

Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n

Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n

Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n

Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n

Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n

Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};