Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n
Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\nRokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n
Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n
Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n
Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n
Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n
Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n
Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n
Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n
Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n
Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\n Baca: Perokok Harus Santai dalam Menjawab Segala Tuduhan<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah keberhasilan eksperimen tersebut, warga yang sebelumnya hendak membuang tembakau milik mereka, akhirnya urung membuang tembakau. Tembakau kembali disimpan untuk diolah dengan disemprotkan madu dan digunakan untuk konsumsi keseharian mereka.<\/p>\n\n\n\n Silakan mencoba eksperimen rekan saya ini ke tembakau favorit anda semua. Dan mari terus galakkan merokok tingwe untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang menaikkan cukai dengan angka yang tak masuk akal itu.<\/p>\n","post_title":"Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bereksperimen-dengan-tembakau-rajangan-untuk-rokok-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-03 10:07:01","post_modified_gmt":"2020-01-03 03:07:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6347","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4689,"post_author":"898","post_date":"2018-03-28 06:57:14","post_date_gmt":"2018-03-27 23:57:14","post_content":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan<\/em><\/span>\r\n\r\nBudaya merokok sudah menjadi kebiasaan wajib bagi sebagian orang. Jika tak ngudud<\/em>, aktivitas para perokok bagai sayur tanpa garam. Ya, hambar. Setiap selesai menjalani rutinitas, tak lupa mereka mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sakunya. Mereka juga bisa merokok dengan berbagai pendamping yang pas, baik itu rekan sejawat hingga segelas kopi yang masih hangat.\r\n\r\nJika perokok ditemani dengan kopi, maka itu sudah waktunya para perokok memikirkan nasib. Penatnya beraktivitas memang menjadi sebuah alasan perokok untuk bersantai. Namun, ada juga perokok yang tak doyan dengan suasana puitis macam itu. Ya, mereka pun memilih merokok bersama dengan sobat karibnya. Tentu tak lupa dengan secangkir kopi.\r\n\r\nNamanya orang, semua pasti memiliki kepala yang berbeda. Sama halnya dengan ketertarikan rasa. Para perokok tentunya punya lirikan khusus terhadap suatu merek rokok tertentu. Ada yang suka dengan merek macam Djarum Super, Gudang Garam, Marlboro, hingga Sampoerna.\r\n\r\nPara perokok ini pun memiliki rasa bangga dengan selera rokoknya. Seringkali, orang-orang tertentu menjadikan merek sebagai sebuah pembahasan. Jika kalian sedang \u2018bercumbu\u2019 dengan para perokok, cobalah untuk membeli sebuah rokok bermerek asing, macam Aroma, Gudang Garam Djaja, atau Minak Djinggo. Pembahasan serius yang tadinya menyangkut urusan negara, akan berubah ketika kalian membawa merek rokok semacam di atas.\r\n\r\n\u201cWih masih pertengahan bulan padahal, kok bawanya rokok akhir bulan?\u201d, \u201cBuset rokok petani ngapa <\/em>lu bawa-bawa ke mari, bro?, \u201cLu mau ngerokok<\/em> apa mau ngusir<\/em> nyamuk?\u201d\r\n\r\nBerbagai tanggapan di atas sudah pasti keluar oleh sebagian para perokok yang kamu singgahi. Biasanya, kamu akan menemuinya ketika sedang melingkar bersama perokok yang kebanyakan mahasiswa perkotaan besar. Alasan mereka jelas, merek rokok yang kalian bawa masih tabu dari pandangan mereka sehari-hari. Bisa juga, merek rokok itu pernah membawa kenangan pahit bagi sang pencibir.\r\n\r\nJujur, perkataan semacam itu membuat saya kesal. Orang-orang macam inilah yang bisa dikatakan sebagai para kufur nikmat. Selain tak bersyukur dengan ciptaan Tuhan, mereka juga tak sadar menyakiti hati sesama perokok. Bahkan kalau mau lebih jahat lagi, mereka tak sadar bahwa omongan itu merupakan sebuah kejahatan besar untuk para petani Tembakau.\r\n\r\nPerkataan mereka seolah-olah menciptakan sebuah sekte antara perokok satu dengan perokok lainnya. Mereka semacam hasil reinkarnasi dari para penduduk Eropa zaman dulu. Pada masa pertengahan di Eropa, terdapat sebuah kelompok masyarakat Kristen yang terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama diisi oleh golongan Kristen dengan konsep Paus sebagai poros, sedangkan golongan kedua diisi golongan Kristen yang mengkritik sistem Paus dan menginginkan perubahan.\r\n\r\nPerpecahan dua golongan ini menyebabkan perang besar yang kita kenal dengan istilah Perang Salib. Keduanya sama-sama berpandangan bahwa keyakinan mereka benar. Barulah pada tahun 1648, Perang Salib berakhir lewat Perdamaian Westfallen.\r\n\r\nDi dalam Islam, kita mengenal perpecahan sekte antara kelompok Sunni dan Syiah. Perpecahan ini bermula saat Nabi Muhammad meninggal dunia. Akibatnya, terjadilah kekosongan kekuasaan yang biasa disebut vacuum of power. <\/em>Kelompok Syiah berpandangan teguh bahwa penerus Nabi Muhammad adalah anaknya, yakni Ali bin Abi Thalib. Namun kelompok Sunni meyakini bahwa penerus Nabi Muhammad adalah Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, baru Ali.\r\n\r\nDi Indonesia pun, kita juga pernah mengalami peristiwa perpecahan sekte, antara kelompok Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ideologi yang dianut adalah benar. Alih-alih runcingnya perbedaan, mereka semua sepakat bahwa Indonesia haruslah menjadi negara yang super power<\/em>, adil, dan sejahtera.\r\n\r\nApa yang menjadi benang merah antara perbedaan selera perokok dengan perpecahan sekte di atas? Sederhana saja, jangan sampai kejadian mengerikan di atas kembali terjadi kepada para insan perokok. Sejarah sudah membuktikan, perpecahan adalah suatu hal yang sudah sepatutnya untuk dihindari. Mari para perokok sekalian belajar, bahwa perbedaan rasa bukanlah menjadi suatu hal yang menjadi pemecah. Mari menghormati perbedaan.\r\n\r\nBoleh saja jika kalian para perokok tetap teguh dengan pendirian masing-masing. Namun alangkah baiknya jika tetap menghormati kenikmatan selera dalam tembakau yang disajikan. Atau barangkali, coba saja mencicipi suguhan baru yang disajikan para perokok anti mainstream <\/em>tersebut. Yang terpenting, jangan sampai munafik ketika kamu sedang tak memiliki uang dan membeli rokok yang sudah kamu cibirkan.","post_title":"Jadilah Kretekus yang Menghargai Perbedaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jadilah-kretekus-yang-menghargai-perbedaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2018-04-06 09:16:42","post_modified_gmt":"2018-04-06 02:16:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4689","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":4622,"post_author":"878","post_date":"2018-02-24 10:13:24","post_date_gmt":"2018-02-24 03:13:24","post_content":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\n\n \"Bagaimana rasanya, Pak?\" Tanya rekan saya ke beberapa warga yang mencicip tembakau semprot madu.<\/p>\n\n\n\n \"Wah, enak ini tembakaunya. Nggak beda jauh dengan rasa tembakau kami yang biasanya kami olah dengan baik.<\/p>\n\n\n\n \"Itu memang tembakau milik desa ini, Pak.\" Jawab teman saya. Ia kemudian mrnambahkan, \"Tembakau yang belum lama dipanen tapi tidak terurus itu.\"<\/p>\n\n\n\n Rekan saya itu, memang tidak menceritakan eksperimennya terhadap tembakau milik warga yang rencananya hendak dibuang. Jadi warga memang tak tahu kalau tembakau itu ternyata milik mereka yang belum lama mereka panen. <\/p>\n\n\n\nRokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n
Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n
Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n
Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n
Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n
Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n
Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n
Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n
Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n
Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n
Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n
Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n
Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n
Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n
Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n
Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n
Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n
Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n
Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n
Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n
Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n
Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n
Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n
Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n
Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n
Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n
Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n
Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Rokok Kawung<\/h3>\n\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\n\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\n\n
Rokok Bidis<\/h3>\n\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\n\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\n\n
Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\n\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\n\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\n\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\n\n
Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\n\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\n\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\n\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\n\n
Obat Tradisional<\/h3>\n\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\n\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\n\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_title":"Mengenal Rokok Nipah dari Sumatera","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"mengenal-rokok-nipah-dari-sumatera","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-17 15:21:37","post_modified_gmt":"2023-09-17 08:21:37","post_content_filtered":"Salah satu kenakalan masa kanak-kanak yang pernah saya lakukan dan masih saya ingat hingga kini adalah pencurian yang saya lakukan bersama beberapa orang teman saya. Kami rutin mencuri rokok kawung milik imam musala di kampung kami. Hanya daunnya saja yang kami gulung kemudian kami bakar untuk dihembuskan asapnya. Di dalam daun tidak kami isi dengan tembakau kering karena ketika kami coba, rasanya begitu menusuk tenggorokan. Kelak beberapa waktu kemudian saya baru paham daun kawung yang digunakan untuk melinting rokok itu adalah daun aren.<\/span>\r\n
Rokok Kawung<\/h3>\r\nRokok kawung adalah satu dari banyak jenis kearifan lokal yang ada di negeri ini dalam menikmati tembakau. Setiap daerah memiliki variasi khusus dalam hal campuran untuk tembakau ketika hendak merokok. Yang umum hingga akhirnya menjadi produk industri, tembakau dicampur dengan cengkeh hingga menghasilkan produk kretek. Ada pula yang dicampur dengan kemenyan, dan bermacam rempah-rempah lainnya yang banyak ditemukan di Indonesia.<\/span>\r\n\r\nSelain dari campuran yang digunakan untuk merokok, jenis daun atau kertas yang digunakan untuk melinting tembakau dan campurannya juga bervariasi. Variasi jenis kertas ini memberikan karakteristik tertentu terhadap rasa rokok, dan juga terhadap penamaan rokok. Selain rokok kawung, ada banyak lagi jenisnya. Ada klobot. Penamaan tersebut karena daun yang berfungsi untuk melinting adalah daun jagung kering. Rokok cerutu menggunakan daun tembakau utuh sebagai daun pembungkus. \u00a0<\/span>\r\n
Rokok Bidis<\/h3>\r\nSelanjutnya ada rokok bidis. Produk ini terkenal di wilayah Kamboja, Pakistan, Bangladesh dan India. Rokok bidis adalah rokok yang diracik dari serpihan dan abu tembakau hitam, tanpa campuran cengkeh dan pembungkusnya dari daun tembumi kering yang dilinting lalu diikat dengan seutas benang. Terkadang para penikmat rokok bidis mencampurkan berbagai saus rasa buah-buahan agar lebih nikmat dihisap. <\/span>\r\n\r\nAda pula rokok nipah. Isinya sama saja dengan rokok pada umumnya, tembakau kering yang telah diiris, kadang dicampur cengkeh dan juga kemenyan sesuai dengan selera para perokoknya. Yang membedakan adalah daun yang digunakan untuk melinting adalah daun nipah. Rokok nipah populer di wilayah Sumatera, mulai dari Aceh di utara hingga Lampung di selatan. Ini terjadi karena daun nipah mudah tumbuh di wilayah-wilayah bergambut di Sumatera. Selain di Sumatera, di Kalimantan orang-orang juga umum merokok menggunakan daun nipah.<\/span>\r\n
Asal Mula Rokok Nipah<\/h3>\r\nBerdasarkan penuturan Anwar Beck<\/a>, seorang budayawan asal Sumatera Selatan<\/span>, masyarakat Palembang sejak dahulu sudah terbiasa merokok. Leluhur menjadikan rokok sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sejak dahulu pula mereka menjadikan daun nipah sebagai alat yang digunakan untuk melinting produk ini. Mulai dari anak muda hingga orang tua biasa menggunakan daun nipah untuk merokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKebiasaan menggunakan daun nipah untuk melinting tembakau membuka peluang bisnis. Banyak pengrajin rumah tangga bermunculan memproduksi daun nipah kering yang digunakan untuk melinting tembakau. Selain memproduksi daun untuk merokok, batang daun yang ada digunakan sebagai bahan baku membuat kerajinan tangan. Jadi selain mendapat penghasilan dari menjual daun nipah, kerajinan tangan dari batang daun bisa memberikan penghasilan tambahan bagi para pengrajin.<\/span>\r\n\r\nPohon nipah (Nypa pruticans) seperti juga pohon-pohon lain yang satu famili dengannya, memiliki banyak kegunaan. Selain untuk bahan merokok, daun nipah juga umum digunakan untuk membuat atap rumah. Buahnya bisa dimakan begitu saja atau dibuat manisan semacam kolang-kaling, manisan yang biasa dikonsumsi saat buka puasa di bulan Ramadan.<\/span>\r\n
Ekspor hingga ke Thailand<\/h3>\r\nSelain dikonsumsi di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan, daun nipah yang digunakan untuk merokok juga diekspor ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Adalah Jang Muis, seorang warga Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang memiliki usaha mengekspor daun nipah ke Thailand. Dalam sebulan, Ia mengirim daun nipah<\/a> ke Thailand hingga 15 ton. <\/span>\r\n\r\nDi Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan, Pasangan Siti Hawa (59 tahun) dan Hamim Abdullah adalah juga pengrajin daun nipah untuk kebutuhan merokok. Awalnya mereka menjual daun nipah ke wilayah Prabumulih di Sumatera Selatan. Berbekal iklan gratis di internet yang dibuat oleh anak mereka, keduanya kini rutin mengirim daun nipah untuk merokok ke Thailand<\/a> sebanyak 2,5 ton setiap bulannya.<\/span>\r\n\r\nDalam satu bulan, Siti dan suaminya setidaknya mendapat keuntungan bersih dari usaha daun nipah ini mencapai Rp30 juta. Dari usahanya itu Ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana.<\/span>\r\n
Obat Tradisional<\/h3>\r\nSelain memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusahanya, rokok daun nipah ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Sumatera Selatan. Menurut H Mukhtar (55), salah seorang tokoh masyarakat, dahulu berdasarkan pengetahuannya yang diperoleh dari orang tuanya, daun rokok pucuk ini digunakan sebagai obat terhadap beberapa penyakit. Dahulu kalau ada anak-anak kecil yang sakit demam panas dan bibirnya pecah-pecah, maka disuruh orangtuanya mengisap daun rokok pucuk ini, maka tak lama kemudian akan sembuh.<\/span>\r\n\r\nMasih menurut H Mukhtar, daun rokok nipah ini diketahui juga sebagai obat untuk penderita semacam penyakit polip hidung atau di kalangan masyarakat Melayu pesisir dikenal dengan nama penyakit \"restong\". Maka asap dari rokok daun nipah ini, dianggap mampu menyembuhkan penyakit semacam ini.<\/span>\r\n\r\nProduk yang terus menerus dikampanyekan buruk dan buruk, hanya buruk saja seakan tidak ada manfaatnya sama sekali, di tangan masyarakat melayu pesisir di wilayah Sumatera, bisa dijadikan obat. Lebih dari itu, rokok daun nipah juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi beberapa orang warga yang membuka usaha menjadi pengrajin daun nipah untuk merokok. <\/span>","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=4622","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};