Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n
Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n
Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n
Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n
Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n
Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n
Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n
Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n
Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n
Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n
Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n
Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n
Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n
Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n
Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n \"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n \"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n \"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n \"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n \"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n \"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n \"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lagi-lagi\nsaya katakan,meski murah, tarikan rokok ini justru cenderung halus. Tidak\nmenyegrak dan nyaman untuk tenggorokan. Hanya saja dari segi soal citarasa,\nrokok ini barangkali akan tidak disukai oleh beberapa orang. Ini hanya masalah\nselera kok.<\/p>\n\n\n\n Karena\nkesederhanaan itu tak bisa dimiliki, dirasakan, dan dilakukan oleh banyak\norang, begitu juga dengan penikmat rokok ini. Tak banyak, distribusinya juga\nterbatas dan tak semua daerah ada rokok ini. Tapi setidaknya jika anda berada\ndi Yogyakarta, belilah rokok ini, harganya? Cukup 12 ribu untuk satu bungkus\nberisi 12 batang. <\/p>\n","post_title":"Rokok Tuton dan Arti Kesederhanaan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-tuton-dan-arti-kesederhanaan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-16 08:47:53","post_modified_gmt":"2020-08-16 01:47:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7023","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7020,"post_author":"919","post_date":"2020-08-15 09:16:23","post_date_gmt":"2020-08-15 02:16:23","post_content":"\n Mandra mulai bercerita dengan sangat sederhana. Dia bersila di bale kayunya di hadapan beberapa tamu yang hadir. Obrolan di bawah pohon rambutan, begitu dia menamakannya. Obrolan ini menceritakan kisah yang tak banyak orang tahu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n Ekstra, begitu Mandra menyebutnya. Jangankan para seniman, orang Betawi kebanyakan pun tak tahu. Dalam cerita yang disampaikan Mandra, Ekstra adalah segmen acara tersendiri dalam seni teater betawi. Segmen ini diciptkan oleh Haji Bokir, tokoh yang sering muncul dalam film-film horor Suzana. <\/p>\n\n\n\n Mandra menuturkan, peran Ekstra ini diberikan oleh Haji Bokir kepada Haji Bodong. Bagi anda yang belum tau siapa itu Haji Bodong, dia adalah orang yang memerankan cing caak dalam serial si doel. Cing Caak ini juga yang kemudian dalam serial tersebut sering bermain terompet besar yang kelak mewariskannya pada Si Doel. <\/p>\n\n\n\n Ekstra dihadirkan oleh Haji Bokir sebagai bentuk hiburan tambahan. Maklum, dalam menanggap seni betawi biasanya akan menghabiskan waktu semalam suntuk. Demi menjaga waktu dan ritme maka Ekstra hadir. <\/p>\n\n\n\n Nah di sinilah kemudian kretek berperan sebagai barang yang penting. Mandra menceritakan, saat ekstra dimulai, Haji Bodong biasanya akan merokok kretek sambil mengitari perempuan panggung yang sedang ngibing. Namun dia tak akan ikut tergoda untuk menari. <\/p>\n\n\n\n Ketika lagu selesai, Haji Bodong yang berada di depan panggung akan menghisap rokok dalam-dalam dan Haji Bokir akan mengisi suara dubbingnya. Apa yang diucapkan oleh Haji Bokir di belakang panggung akan dilakukan oleh Haji Bodong. Misalnya:<\/p>\n\n\n\n \"Rokok apaan ini, kok ga enak banget. Buang ahhh\" tutur Haji Bokir dari belakang panggung. Sedangkan di depan panggung, Haji Bodong akan melakukan hal serupa, meski dengan mimik yang berbeda karena tak rela rokok yang ia hisap harus dimatikan. <\/p>\n\n\n\n Nantinya, saat rokok dimatikan, Haji Bokir akan bilang \"Tapi sayang rokoknya dimatiin, isep lagi aahh.\" Di sisi lain, Haji Bodong mau tidak mau akan kembali memungut puntungan rokok dan menghisapnya kembali secara tidak rela. <\/p>\n\n\n\n Aksi Haji Bodong dan Haji Bokir dalam Ekstra tentu mampu memecah suasana. Mandra menceritakan, aksi itu saja membuat para penonton mampu tertawa terbahak-bahak. Dia kagum, dari kepala Haji Bokir, segmen Ekstra mampu hadir sebagai sebuah bentuk kesenian. <\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, peran kretek dari kesenian dan kebudayaan di Indonesia memang tak bisa dilepaskan. Apalagi kesenian Betawi, paling sering kita jumpai yaitu Haji Bolot yang sering ngebas-ngebus di atas panggung. <\/p>\n\n\n\n Bahkan juga ada lagu gambang kromong berjudul Rokok Kretek. Saya percaya betul, segala sesuatu yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia akan diabadikan dalam karya seni. Ini adalah cara agar manusia tak lupa akan sejarahnya. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>. Pekan lalu saya menulis di situsweb ini perihal panen cengkeh dengan hasil bagus tahun ini namun harganya tidak terlalu baik. Harga cengkeh di tingkat petani di Bali berada pada angka Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Info ini saya dapat dari Bli Putu Ardana, salah seorang petani senior di Desa Munduk, Buleleng. Kemarin, informasi yang saya dapat dari Bli Putu terkait kondisi harga cengkeh pada musim panen tahun ini, semakin mengkhawatirkan. Harga cengkeh pekan ini turun lagi, masuk di angka Rp40 ribuan. Harga maksimal di petani pada pekan ini Rp48 ribu. Jika tidak ada intervensi apapun dari pemerintah atau dinas terkait dengan pertanian cengkeh, harga cengkeh di musim panen tahun ini bisa semakin turun. Turun di angka sekitar Rp40 ribu saja, sudah menjadi angka terendah setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Di Purwakarta, beberapa anak memanfaatkan musim panen cengkeh tahun ini dengan mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah. Mereka memgumpulkan cengkeh-cengkeh itu, kemudian menjualnya. Uang yang didapat dari hasil menjual cengkeh itu mereka gunakan untuk membeli pulsa untuk bisa terus belajar online selama sekolah menerapkan sistem belajar online<\/em>.
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7017","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mandra dan Kisah Tentang Kretek yang Tak Banyak Diketahui","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mandra-dan-kisah-tentang-kretek-yang-tak-banyak-diketahui","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-15 09:16:25","post_modified_gmt":"2020-08-15 02:16:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7020","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7017,"post_author":"878","post_date":"2020-08-14 13:17:52","post_date_gmt":"2020-08-14 06:17:52","post_content":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Hal-hal seperti ini sepertinya sama sekali tidak dilihat oleh pemerintah. Mereka tidak melihat hal-hal semacan ini sebagai bentuk ketahanan ekonomi komunitas. Pemerintah sepertinya hanya mementingkan pemasukan bagi mereka. Menaikkan tarif cukai, terus, dan terus, entah sampai kapan. Bisa jadi sampai industri rokok dan sektor pertanian yang menyertainya benar-benar hancur berantakan.<\/p>\r\n","post_title":"Harga Cengkeh di Bali yang Semakin Terpuruk dan Kabar Lain di Seputar Panen Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"harga-cengkeh-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 14:29:53","post_modified_gmt":"2024-11-13 07:29:53","post_content_filtered":"\r\n
Harga sebesar itu menjadi angka terendah dalam beberapa tahun belakangan. Dari segi bisnis, angka itu memberi keuntungan minim bagi para petani. Biaya perawatan, transportasi, dan terutama biaya untuk membayar pekerja yang memetik bunga-bunga cengkeh<\/a> dari tangkai-tangkai pohon.
Sejak tahun lalu, penurunan harga cengkeh mulai terjadi. Penyebabnya, kenaikan nilai cukai rokok yang 'gila-gilaan', mencapai lebih dari 20 persen di tahun ini. Informasi kenaikan nilai cukai lebih dari 20 persen yang dikeluarkan pemerintah bertepatan dengan musim panen tahun lalu, membikin harga cengkeh turun cukup drastis.
Sudah sejak lama komoditas cengkeh memang sangat tergantung dengan industri rokok di Indonesia. Lebih 90 persen hasil panen cengkeh sejauh ini memang diserap hanya dari industri rokok. Jadi, gejolak yang terjadi di industri rokok mau tak mau berpengaruh pada pertanian cengkeh.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Bali<\/h3>\r\n
Keterpurukan harga cengkeh bisa kian mendalam usai pemerintah berencana menaikkan lagi cukai cengkeh di tahun depan pada angka 8 hingga 11 persen. Entah apa yang ada di pikiran pemerintah dengan rencana ini. Jika kenaikan cukai cengkeh ini benar-benar terjadi, bukan hanya pertanian cengkeh yang hancur, pertanian tembakau hingga industri rokok akan betul-betul terkena badai dengan rencana ini. Lebih lagi, dunia sedang mengalami krisis ekonomi akibat pandemi korona yang sedang terjadi kini. Dunia industri rokok dan pertanian yang menyertainya dihantam dua krisis langsung jika cukai kembali dinaikkan tahun depan.
Di tengah keterpurukan harga cengkeh<\/a> tahun ini, ada berita baik di akar rumput menyambut musim panen tahun ini. Berita baik ini berasal dari Purwakarta. Pandemi korona menyebabkan banyak perubahan tatanan dunia, salah satunya adalah sistem belajar di sekolah-sekolah. Belajar online menjadi salah satu solusi.
Solusi ini mendatangkan kendala baru. Salah satu kendalanya adalah keharusan siswa-siswa memiliki perangkat elektronik berupa telepon seluler lengkap dengan pulsanya guna mengakses belajar online lewat fasilitas aplikasi-aplikasi yang membutuhkan jaringan internet. Anak-anak, terutama orang tua mereka mesti menyediakan dana tambahan untuk bisa membeli pulsa.<\/p>\r\nHarga Cengkeh di Purwakarta<\/h3>\r\n
Saat panen cengkeh tahun ini dihantam keterpurukan harga, berita semacam ini bagi saya yang intensif mengamati cengkeh selama lima tahun belakangan, merupakan angin segar.
Kasus di Purwakarta ini bukan kejadian pertama. Di wilayah-wilayah penghasil cengkeh di Indonesia, anak-anak terlibat langsung dalam panen cengkeh<\/a>. Mereka mengumpulkan cengkeh-cengkeh yang berguguran di tanah, menjualnya, dan menggunakan uang dari hasil menjual cengkeh itu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Membantu orang tua membayar biaya sekolah, sampai membantu meringankan beban ekonomi keluarga.