\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};