Sigaret Kretek Tangan (SKT), Bekal Wajib Para Pendaki

Industri rokok di Indonesia mengenal setidaknya empat jenis rokok utama. Keempat jenis rokok itu adalah Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Kretek Mesin Reguler (SKM-R), Sigaret Kretek Mesin Mild (SKM-M) dan Sigaret Putih Mesin (SPM). Perbedaan klasifikasi ini berdasarkan bahan baku pembuat rokok dan tata cara produksinya. Untuk jenis rokok SKT, produksi dalam proses pelintingan rokok masih menggunakan metode manual. Ribuan pekerja setiap harinya dengan tekun melinting rokok jenis ini. Sedangkan jenis rokok lainnya, proses pelintingan sudah menggunakan mesin.

Contoh rokok dalam kategori SKT adalah: Dji Sam Soe, Djarum 76, Djarum Coklat, Gudang Garam Merah, dan rokok sejenisnya. Biasanya rokok jenis ini tidak menggunakan filter dalam tiap batangnya. Untuk jenis SKM-R ada rokok Gudang Garam Internasional, Djarum Super, Surya 12, dan lain-lain. Sedangkan jenis SKM-M adalah rokok-rokok jenis mild semisal Sampoerna Mild, LA Lights, Surya Profesional Mild, dan lain-lain. Yang terakhir, adalah jenis SPM. Rokok jenis ini adalah rokok yang tidak menggunakan cengkeh dalam bahan bakunya. Rokok jenis ini diwakili oleh Marlboro, Lucky Strike, Dunhill, dan lain-lain.

Selain empat kategori produk rokok tersebut, memang ada jenis rokok lainnya, namun jenis rokok itu tidak terlalu ramai penggemar di pasaran. Cigarilos, rokok klobot, dan beberapa lainnya. Rokok-rokok jenis ini biasanya minim peminat namun para peminatnya adalah mereka yang bersetia terhadap produk ini.

Tradisi mendaki gunung di negeri ini sudah berlangsung sejak lama. Sebelum agama-agama dari luar nusantara masuk ke negeri ini, beberapa penganut spiritual ajaran leluhur menjadikan gunung sebagai salah satu tempat suci yang mereka yakini. Gunung juga menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat ritual-ritual kegamaan leluhur mereka jalani. Di pulau jawa, beberapa gunung juga diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Banyak gunung di pulau jawa terkait erat dengan laku spiritualitas masyarakat Jawa.

Di Gunung Lompobatang dan Bawakaraeng, Sulawesi Selatan, ritual keagamaan juga sudah lama dilakukan masyarakat sekitar. Mereka mendaki kedua gunung tersebut sembari menjalani beberapa ritual wajib pada waktu-waktu tertentu. Mereka yang telah melakukan pendakian dua gunung itu ditambah beberapa ritual dianggap sudah menunaikan ibadah haji, Haji Bawakaraeng istilah mereka.

Pendakian gunung-gunung di nusantara selanjutnya dilakukan oleh para peneliti yang diutus pemerintah kolonial Belanda. Gunanya tentu saja untuk memetakan wilayah nusantara yang begitu luas sekaligus memetakan potensi sumber daya alam yang terkandung dalam gunung-gunung di negeri ini. Lewat ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan para peneliti itulah eksploitasi sumber daya alam mulai dilakukan dengan masif.

Selanjutnya, aktivitas mendaki gunung sebagai sarana rekreasi mulai semarak ketika mahasiswa lewat organisasi pencinta alam yang mereka dirikan pada periode 60an akhir hingga kini menjadikan kegiatan mendaki sebagai inti kegiatan mereka. Selain mahasiswa, masyarakat umum juga mulai mencoba olahraga minat khusus yang sebelumnya eksklusif di kalangan tertentu saja. Puncaknya, pendakian gunung-gunung di Indonesia begitu riuh setelah film ‘5 cm’ yang bercerita tentang pendakian yang dilakukan sekelompok pemuda yang bersahabat baik tayang di bioskop-bioskop pada akhir tahun 2012. Setelah film itu tayang, banyak gunung di Indonesia terutama di pulau jawa yang sebelumnya sepi berubah menjadi ramai oleh sekumpulan pendaki.

Produk-produk rokok tidak bisa dipisahkan dari dunia pendakian. Para pendaki menjadikan rokok sebagai alat bantu untuk menghangatkan tubuh karena cuaca di pegunungan yang memang cukup dingin. Selain itu, rokok juga mereka gunakan sebagai alat bantu untuk mencairkan suasana. Saling berbagi rokok dengan pendaki lain yang baru dikenal membantu mempermudah keakraban di antara para pendaki. Setelah saling berbagi rokok, kemudian rokok dinyalakan dan mengisapnya bersama-sama, selanjutnya obrolan-obrolan mengalir lancar di antara mereka.

Rokok, urgensinya mungkin hanya sedikit di bawah beras dalam daftar panjang perbekalan yang harus dibawa oleh pendaki. Beberapa pendaki yang merokok tak jarang lalai membawa beberapa perbekalan penting tetapi tidak untuk rokok. Dan, dari semua jenis rokok yang beredar di pasaran, rokok jenis SKT adalah rokok favorit para pendaki ketika mereka mendaki gunung.

Meskipun sebelumnya para pendaki itu biasa merokok produk rokok yang bukan SKT, ketika mendaki mereka tetap membawa produk rokok SKT. Ada beberapa alasan mengapa ini terjadi. Bagi mereka yang memiliki keterbatasan dana saat mendaki, banyak produk rokok SKT berharga murah. Di gunung, produk rokok SKT begitu nikmat terasa, dan lebih panjang durasi kenikmatannya. Rokok SKM-M, lebih lagi rokok SPM, ketika dinikmati di gunung menjadi hambar rasanya, dan belum puas dinikmati sudah habis. Sehingga membutuhkan persediaan yang lebih banyak, tentu saja ini akan menguras keuangan para pendaki.

Jadi, lumrah dan wajar jika menyebut produk rokok SKT adalah bekal wajib para pendaki ketika mendaki gunung. Kadang Ia diselingi dengan bekal tembakau rajangan yang harus dilinting sendiri. Tetapi SKT tetap pilihan utama karena kepraktisannya, durasi menikmatinya yang panjang, dan harganya yang murah. Kalau saya, SKT favorit saya ketika mendaki gunung adalah Djarum Coklat, atau Dji Sam Soe jika sedang punya uang lebih banyak. Bagi saya, merokok paling nikmat itu ya di gunung, saat senja tiba, kabut tipis mulai turun, kemudian menikmati sebatang rokok ditemani teh hangat. Nikmat. Nikmat sekali.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

ARTIKEL TERKAIT

Respon Publik Terhadap Isu Harga Rokok Rp 70 Ribu

Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) merilis hasil survei mengenai dukungan publik terhadap kenaikan…

Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek

Memilih Jalan Hidup Menikmati Kretek || Dua minggu ke belakang menjadi sebuah perdebatan sengit bagi batin saya. Bagaimana tidak, persoalan…

Logika Salah Kaprah Harga Rokok di Indonesia Sangat Murah

Beberapa hari lalu, Komnas Pengendalian Tembakau dan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) merilis hasil survei terkait dukungan publik…

Taru Martani, Pabrik Lokal Penghasil Cerutu Internasional

Bagi kebanyakan orang, cerutu identik dengan Kuba. Padahal, Yogyakarta juga punya cerutu yang cita rasanya tidak kalah dengan cerutu Kuba…