\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_title":"Pemanfaatan Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"virus-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2023-09-13 11:21:34","post_modified_gmt":"2023-09-13 04:21:34","post_content_filtered":"\r\n

Dunia sedang terjangkit virus corona. Dunia sedang memeranginya. Para ilmuwan berlomba-lomba mencari vaksin untuk menghentikan serangan virus corona yang statusnya sudah mencapai wabah pandemik. Semua pihak bahu-membahu, bahkan ada yang menguji coba tembakau sebagai vaksin bagi virus corona. Ya, tembakau yang dicap sebagai musuh dalam dunia kesehatan kini dapat menjadi harapan bagi dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harapan tembakau dapat menjadi vaksin<\/a> bagi virus corona datang dari salah satu perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT). BAT mengembangkan vaksin bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kentucky BioProcessing yang menjadi anak perusahaan dari BAT ini sejak 2014 sudah terlibat dalam kolaborasi dengan Mapp Biopharmaceutical Inc. dalam rangka pengembangan ZMapp yang merupakan obat Ebola. Meskipun obat ini belum dipasarkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak pihak yang meragukan apa yang dikerjakan oleh BAT, hal ini dikarenakan industri rokok selalu dituding sebagai pabrik yang memproduksi penyakit bagi manusia. Perdebatan mengenai rokok dan kesehatan bagaikan magnet berbeda kutub yang hampir tidak pernah ada titik temunya.<\/p>\r\n

Tembakau sebagai Vaksin untuk Virus Corona<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok versus kesehatan bukan menjadi point penting pada usaha BAT yang mengembangkan vaksin virus corona, point penting yang harus menjadi konsern bagi seluruh ilmuwan dan publik adalah menyoal pengakuan bahwa tembakau merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pertarungan antara industri rokok dan farmasi mengakibatkan frame tembakau secara determinan hanyalah berdampak negatif bagi kesehatan. Tembakau itu buruk dan harus dikendalikan bahkan dimusnahkan dari muka bumi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Padahal tembakau sebagai komoditas yang telah ditanam dan dibudidayakan oleh manusia berabad-abad lamanya. Terbukti dimanfaatkan oleh manusia dalam kesehariannya melakukan berbagai aktifitas kehidupan. Tembakau<\/a> dimanfaatkan bukan hanya dimensi ekonomi semata, tapi juga dimensi sosial, budaya dan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Oke balik lagi ke persoalan tembakau dapat menjadi harapan bagi pengembagan vaksin virus corona. Pertanyaannya, apa yang melandasi tembakau dapat dijadikan harapan tersebut?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut tim peneliti ahli yang mengembangkan tembakau sebagai vaksin mengatakan, vaksin yang sedang dalam pengembangan ini menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka baru-baru ini juga mengkloning sebagian dari urutan genetik COVID-19. Ini menyebabkan zat yang menginduksi produksi antibodi. Setelah itu, antigen kemudian dimasukkan ke dalam tanaman tembakau untuk reproduksi.<\/p>\r\n

Potensi Tembakau sebagai Obat<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penelitian mengenai tembakau dapat menginduksi antibodi bukanlah barang baru. Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah meneliti komponen bioaktif yang terkandung di dalam tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Menurut Dr Toto, pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu di dalam daun tembakau juga terdapat vitamin C atau asam askorbat yang menjadi antioksidan dan dapat bereaksi dengan antiradikal bebas dengan cara memberikan efek proteksi sel.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di dalam tembakau juga ada zinc (Zn) yang berguna dalam pembentukan struktur enzim dan protein yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, menurut Dr Toto, tembakau juga mengandung minyak astiri (essential oil) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiseptik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mungkin masih banyak lagi penelitian soal manfaat tembakau bagi kesehatan. Dan dengan adanya uji coba pengembangan tembakau sebagai vaksin Covid-19 bisa jadi momentum pengakuan tembakau yang tidak melulu bertentangan dengan kesehatan. Hari ini kita masih terus berharap tembakau dapat menjadi kunci melawan Covid-19, biarkan para ilmuwan dan sains yang menggali harapan tersebut.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6609","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6391,"post_author":"883","post_date":"2020-01-21 10:42:55","post_date_gmt":"2020-01-21 03:42:55","post_content":"\n

Kampanye kesehatan yang digelar oleh kelompok antirokok terlihat seperti juru selamat yang hendak menyelamatkan manusia di akhir zaman. Narasi kesehatan mengenai dampak berbahaya rokok menjadi kekuatan untuk memuluskan kepentingan jahat mereka dalam merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Apa saja agenda-agenda yang kerap dilakukan oleh kelompok antirokok tersebut?
<\/p>\n\n\n\n

Cap Jahat Terhadap Industri Tembakau<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Dalam perang perebutan industri nikotin rezim kesehatan dunia menjadikan perusahaan rokok sebagai kambing hitam. Penelitian dibiayai industri farmasi dalam rangka meletakkan citra buruk terhadap produk tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian Surgeon General menyatakan konsumsi rokok yang awalnya sebagai kebiasaan (habituating) kemudian diubah menjadi ketagihan (addiction). Frasa ini berhasil membuat banyak pihak memberikan dukungan terhadap perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Penelitian-penelitian lanjutan pun dilakukan dengan argumentasi yang terkesan ilmiah bahwa tembakau memperburuk kesehatan diri dan orang lain, menghabiskan anggaran belanja sehari-hari, menambah beban biaya kesehatan sampai penyebab kematian utama di dunia. Langkah-langkah ini secara telak mengukuhkan kemenangan industri farmasi atas perang antitembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Keberhasilan ini sejalan dengan makin tingginya angka penjualan nicotine replacement therapy (NRT). Produk NRT telah menghasilkan untung dengan penualan di Eropa, Belgia (28,5 juta USD), Spanyol (9,7 juta USD), Prancis (9,1 juta USD), Italia (5 juta USD), dan Irlandia (2,2 juta USD).
<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Komponen Pajak Rokok Setinggi-Tingginya<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Komponen kenaikan pajak bagi produk tembakau adalah salah satu agenda global yang meski diberlakukan. Dengan kenaikan produk harga tembakau di pasaran memberi tempat bagi industri farmasi lebih kompetitif bagi produk-produk NRT maupun produk alternatif tembakau untuk bersaing merebut pasar nikotin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam butir-butir perjanjian FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pun terdapat klausul bahwa pajak rokok harus dinaikkan hingga 200 persen. Sasaran utama dari menaikkan pajak setinggi-tingginya adalah menumbangkan bisnis perusahaan rokok. Harga jual rokok di pasaran akan sulit dijangkau oleh konsumen, sehingga penjualan rokok akan menurun secara drastis.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia, cukai menjadi alat pengendalian yang terus didorong oleh kelompok antirokok dengan iming-iming pemerintah mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar. Padahal jika ini dilakukan terus-menerus, maka Industri Hasil Tembakau di Indonesia akan rontok. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemberlakuan Larangan Merokok<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Pelarangan merokok secara umum berfungsi untuk memberi tekanan secara psikologis terhadap konsumen tembakau. Kampanye yang menitiktekankan dengan menyebar informasi bahwa rokok adalah pembunuh paling utama bagi individu dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif). 
<\/p>\n\n\n\n

Kampanye ini berhasil memposisikan para perokok layaknya kriminal yang mengunakan barang terlarang sehingga harus dikenakan sanksi sosial dan ruang geraknya dibatasi.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia pemberlakuan larangan merokok mulai marak terjadi setelah disahkannya UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009, pada pasal 115 memuat mengenai aturan diberlakukannya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah. Aturan ini kemudian diperketat lagi pada kebijakan PP 109 tahun 2012.
<\/p>\n\n\n\n

Alhasil aturan KTR ini menjamur di setiap daerah dengan banyaknya kelahiran Perda KTR. Bahkan pemberlakuan KTR di setiap daerah ini memiliki tafsir tersendiri dari masing-masing daerah, sehingga banyak Perda KTR yang bertentangan dengan hukum perundang-undangan di atasnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mempromosikan Berhenti Merokok dan Kecanduan Nikotin <\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Di titik akhir perang antitembakau adalah memfokuskan tindakan merokok tidak hanya sebagai masalah kesehatan individu tapi juga menyangkut kesehatan publik. Pemprakarsa perubahan paradigma kesehatan didorong oleh sindikasi \u201cThe Drug Trusts\u201d yang terdiri dari 18 perusahaan farmasi multinasional.
<\/p>\n\n\n\n

Setelahnya penggalangan dukungan disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan program Global Health (Kesehatan Global). Pewacanaan Kesehatan Global secara khusus menguntungkan industri farmasi, peraturan internasional didorong untuk menggurangi konsumsi tembakau sekaligus memasukkan produk terapi pengganti nikotin sebagai langkah solutif pemberhentian kecanduan nikotin.<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=0LfEjCPgVvI\n<\/div><\/figure>\n","post_title":"Agenda Jahat Antirokok Merebut Pasar Nikotin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"agenda-jahat-antirokok-merebut-pasar-nikotin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-21 10:45:41","post_modified_gmt":"2020-01-21 03:45:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6391","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5973,"post_author":"855","post_date":"2019-08-19 09:54:14","post_date_gmt":"2019-08-19 02:54:14","post_content":"\n

Tanpa henti, antirokok<\/a>, antitembakau dan sejenisnya berkampanye untuk menanggalkan produk tembakau dari negeri besar ini. Beragam sisi tak pernah luput mereka kuliti, seperti ekonomi, politik, kesehatan, hingga agama. Namun, salah satu konsentrasi yang mereka lakukan pada sektor kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Mereka berpikir saklek bahwa produk olahan tembakau adalah barang haram yang tiada manfaat sama sekali, sebaliknya malah membuat kerugian besar terhadap negara. Kenapa bisa demikian, ya karena mereka hanya menggunakan satu kacamata untuk menghakimi ciptaan Tuhan yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat dan bumi Nusantara ini.
<\/p>\n\n\n\n

Antitembakau cenderung menolak fakta dan penelitian mutahir lainnya seputar tembakau, selama riset atau penelitian itu berbunyi: tembakau memiliki manfaat yang besar bagi berbagai sektor kehidupan.
<\/h3>\n\n\n\n

Seharusnya Antitembakau mendasari pikirannya dari hal yang amat sederhana, \u201cbahwa Tuhan tidak pernah menciptakan apapun hanya untuk disia-siakan\u201d. <\/strong>Bahwa setiap yang diciptakan Tuhan adalah amanah untuk umat manusia, supaya berpikir menjadikannya manfaat untuk menghidupi dan memberikan kehidupan yang baik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di India misalnya, sebagaimana yang dimuat Liputan6.com, tembakau membantu menenangkan radang kulit dan mengurangi rasa sakit. Tak hanya itu, masyarakat India juga percaya bahwa nikotin dalam tembakau akan membantu menghilangkan rasa sakit serta membantu menarik keluar racun, dan dapat menyembuhkan luka dari gigitan ular berbisa. 
<\/p>\n\n\n\n

Soal gigitan ular, saya pernah mendengar sendiri dari salah satu petani tembakau di daerah Sumatera. Ia bercerita, setiap kali ada yang tergigit ular langsung diperam dengan daun tembakau atau cengkeh.
<\/p>\n\n\n\n

Di Kecamatan Nagreg, Bandung, misalnya, sudah sejak lama para petani tembakau memanfaatkan limbah tanaman itu untuk pupuk dan obat. Hal ini diutarakan Aliah dan dimuat Gatra.com. Menurutnya, memanfaatkan tembakau sebagai obat sudah sejak lama. Jika kulit terkena ulat bulu, biasanya tinggal menggosoknya dengan daun tembakau. Tak hanya itu, saat kulit tergores benda tajam, tembakau juga digunakan untuk menyembuhkannya.
<\/p>\n\n\n\n

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Menghisap tembakau ternyata juga membantu menyembuhkan orang yang mengidap penyakit mental. Journal of Amercian Medical <\/em> Association <\/em>pernah mengeluarkan penelitian, orang-orang yang menderita gangguan mental seperti ADHD\/ADD, skizofrenia, dan gangguan lainnya mungkin mengalami efek positif dari merokok. Faktanya, dosis nikotin memiliki efek normalisasi jangka pendek pada aktivitas listrik di otak. Pada penyakit Alzeheimer juga mendapat keuntungan dari dosis nikotin, sehingga kemampuan kognitif pasin sedikit membaik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya masih banyak sekali manfaat tembakau bagi kehidupan manusia. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan mudah takluk pada kepentingan asing, yang enggan mencari manfaat atas suatu hal. Tuhan tidak menciptakan tembakau untuk dibenci<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tuhan-tidak-menciptakan-tembakau-untuk-dibenci","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-19 09:54:22","post_modified_gmt":"2019-08-19 02:54:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5973","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};